
Pantau - PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mengalokasikan dana investasi sekitar tiga juta dolar AS untuk mengembangkan proyek percontohan (pilot project) hidrogen hijau di Ulubelu, Lampung, sebagai bagian dari strategi transisi energi rendah karbon berbasis panas bumi.
Pilot Project Dijalankan untuk Uji Teknologi dan Keamanan
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menjelaskan bahwa proyek ini masih berada dalam tahap pilot project nonkomersial.
"Untuk pilot project green hydrogen yang kita lakukan ini (investasinya) kurang lebih sekitar tiga juta dolar AS," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa proyek ini bertujuan membuktikan kesiapan teknologi, aspek keselamatan, dan kelayakan model bisnis sebelum dikembangkan dalam skala lebih besar.
Pernyataan ini disampaikan Ahmad Yani usai seremoni kick off ESG Initiative Green Terminal yang berlangsung di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten, pada Rabu, 11 Februari 2026.
Pilot project ini ditargetkan mulai beroperasi pada triwulan IV 2026 dengan masa uji coba selama tiga tahun sebagai proof of concept dan commercial readiness.
Jika berhasil, Pertamina akan mengembangkan bisnis hidrogen hijau secara lebih luas untuk sektor energi dan industri.
Produksi Hidrogen Hijau untuk Energi Rendah Karbon
Produksi hidrogen hijau di Ulubelu direncanakan mencapai 80 hingga 100 kilogram per hari, menggunakan listrik dari panas bumi dan teknologi anion exchange membrane electrolyzer dengan efisiensi sekitar 80 persen.
Sebagian besar hasil produksi, sekitar 80 persen, akan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan energi rendah karbon di Terminal LPG Tanjung Sekong dengan teknologi fuel cell sebagai pengganti energi berbasis bahan bakar fosil.
"Sekitar 80 persen (hidrogen hijau) dari Ulubelu akan digunakan untuk keperluan Terminal Tanjung Sekong," ia mengungkapkan.
Pengembangan proyek ini dilakukan melalui pembentukan ekosistem antaranak usaha Pertamina, di mana PT Pertamina Energy Terminal berperan sebagai pengguna hidrogen dan PT Elnusa Petrofin memberikan dukungan distribusi.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi dekarbonisasi operasional.
"Ini menunjukkan bahwa transformasi menuju bisnis berkelanjutan tidak hanya konsep, tetapi sudah diterapkan langsung di aset operasional strategis," ujar Agung.
Penerapan hidrogen hijau di Terminal Tanjung Sekong diharapkan menurunkan emisi dari konsumsi energi listrik konvensional serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Terminal LPG Tanjung Sekong sendiri merupakan salah satu fasilitas strategis Pertamina yang menyuplai sekitar 35 sampai 40 persen kebutuhan LPG nasional, sehingga transformasi energi di fasilitas ini dinilai memiliki dampak besar terhadap dekarbonisasi sektor energi hilir.
- Penulis :
- Leon Weldrick








