
Pantau - Bank Indonesia melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan IV 2025 mencatat surplus sebesar 6,1 miliar dolar AS yang ditopang defisit transaksi berjalan tetap rendah serta surplus transaksi modal dan finansial.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, “Kinerja NPI pada triwulan IV 2025 membaik sehingga mendukung ketahanan eksternal,” dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Pada triwulan IV 2025, transaksi berjalan mencatat defisit sebesar 2,5 miliar dolar AS atau 0,7 persen dari PDB.
Sebelumnya pada triwulan III 2025, transaksi berjalan mencatat surplus sebesar 4,0 miliar dolar AS atau 1,1 persen dari PDB.
Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meski lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan berlanjutnya kontraksi harga komoditas.
Neraca perdagangan migas mencatat defisit lebih tinggi akibat peningkatan kegiatan ekonomi domestik.
Defisit neraca jasa juga meningkat karena penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada triwulan IV 2025 dibandingkan triwulan III 2025.
Defisit neraca pendapatan primer naik akibat kenaikan pembayaran dividen di akhir tahun.
Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder meningkat karena kenaikan remitansi Pekerja Migran Indonesia PMI.
Transaksi modal dan finansial pada triwulan IV 2025 mencatat surplus sebesar 8,3 miliar dolar AS.
Pada triwulan III 2025, transaksi modal dan finansial sebelumnya mencatat defisit sebesar 8,0 miliar dolar AS.
Ramdan menyatakan, “Investasi langsung tetap mencatatkan surplus sebagai cerminan dari terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi Indonesia,”.
Investasi portofolio juga mencatat surplus yang ditopang meningkatnya aliran masuk modal asing seiring imbal hasil investasi yang tetap menarik.
Investasi lainnya turut mencatat surplus yang dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri.
Secara keseluruhan sepanjang tahun 2025, perkembangan NPI menunjukkan ketahanan sektor eksternal tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Transaksi berjalan tahun 2025 mencatat defisit terkendali sebesar 1,5 miliar dolar AS atau 0,1 persen dari PDB.
Defisit tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 8,6 miliar dolar AS atau 0,6 persen dari PDB.
Peningkatan surplus neraca perdagangan barang dipengaruhi kinerja ekspor yang meningkat khususnya produk manufaktur serta kenaikan surplus neraca pendapatan sekunder akibat meningkatnya remitansi PMI.
Di sisi lain, defisit neraca jasa meningkat karena kenaikan defisit jasa telekomunikasi sejalan peningkatan kinerja sektor informasi dan komunikasi.
Defisit neraca pendapatan primer juga meningkat akibat kenaikan pembayaran dividen.
Transaksi modal dan finansial tahun 2025 mencatat defisit sebesar 4,2 miliar dolar AS yang didorong keluarnya aliran modal asing pada investasi portofolio dan investasi lainnya akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global sepanjang 2025.
Posisi cadangan devisa meningkat dari 155,7 miliar dolar AS pada akhir Desember 2024 menjadi 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025.
Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
BI memprakirakan kinerja NPI pada 2026 tetap baik dengan defisit transaksi berjalan rendah dalam kisaran 0,9 persen hingga 0,1 persen dari PDB.
“Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat mempengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan, didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memperkuat ketahanan eksternal,” ujar Ramdan.
- Penulis :
- Aditya Yohan








