HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah Dipicu Tensi AS-Iran, Pasar Dibayangi Ketidakpastian Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Melemah Dipicu Tensi AS-Iran, Pasar Dibayangi Ketidakpastian Global
Foto: (Sumber : Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Usai libur Lebaran, IHSG sempat melemah 22,22 poin atau 0,31 persen ke level 7.084,62 dan bergerak berbalik arah menguat 1,05 persen atau naik 75 poin ke level 7.181,65 setelah beberapa menit dibuka. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (21/4/2026) seiring meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Tekanan Global dan Pergerakan IHSG

IHSG dibuka turun 33,83 poin atau 0,45 persen ke posisi 7.560,28, sementara indeks LQ45 juga melemah 7,00 poin atau 0,93 persen ke level 748,85.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyebut pergerakan IHSG masih cenderung terbatas dalam rentang tertentu.

“Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih sideways pada kisaran level 7.500- 7.700. Namun, jika IHSG menembus level 7.500, diperkirakan berpotensi menguji level 7.450- 7.480,” ungkapnya.

Ketegangan global meningkat setelah Amerika Serikat menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman, serta ancaman lanjutan terhadap infrastruktur Iran jika tidak menyepakati perjanjian.

Faktor Domestik dan Sentimen Pasar

Dari dalam negeri, Bank Indonesia mencatat rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sektor properti meningkat menjadi 3,24 persen pada Februari 2026.

Kondisi tersebut terjadi di tengah pertumbuhan kredit properti yang masih tinggi sebesar 13,7 persen secara tahunan.

Pasar juga mencermati potensi kebijakan suku bunga Bank Indonesia, meskipun diperkirakan belum akan ada kenaikan dalam waktu dekat.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM non subsidi dinilai dapat mengurangi beban kompensasi pemerintah terhadap APBN.

Tekanan juga datang dari bursa global, di mana indeks saham Eropa dan Wall Street kompak melemah pada perdagangan sebelumnya, sementara bursa Asia bergerak variatif.

Penulis :
Aditya Yohan