Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp16.903 per Dolar AS, Tekanan dari Ekspektasi Suku Bunga AS

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp16.903 per Dolar AS, Tekanan dari Ekspektasi Suku Bunga AS
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj/am..)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat, melemah 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp16.903 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.894 per dolar AS.

Pelemahan terjadi di tengah penguatan dolar AS di pasar global seiring ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama.

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange ICDX Taufan Dimas Hareva menyampaikan potensi pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal tersebut.

“Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak relatif stabil dengan kecenderungan melemah terbatas pada perdagangan hari ini di level Rp16.800-Rp16.950 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah masih berasal dari penguatan dolar AS di pasar global, seiring ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama,” katanya.

Ia menilai pelemahan rupiah diperkirakan tidak terlalu dalam karena pelaku pasar domestik masih mencermati langkah stabilisasi otoritas moneter.

Kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang relatif terjaga juga menjadi faktor penahan tekanan terhadap rupiah.

Dari sisi domestik, sentimen utama berasal dari kebijakan suku bunga Bank Indonesia serta stabilitas inflasi yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Arus modal asing di pasar obligasi dan saham turut mempengaruhi pergerakan rupiah.

Permintaan valuta asing dari korporasi untuk kebutuhan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri memberikan tekanan jangka pendek.

Surplus neraca perdagangan menjadi faktor yang menahan volatilitas rupiah di tengah dinamika global.

Komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar juga menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali.

Dalam sepekan ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat seperti inflasi dan indikator ketenagakerjaan.

Data tersebut akan mempengaruhi arah kebijakan Federal Reserve serta pergerakan dolar AS.

Perkembangan imbal hasil obligasi Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar.

Sentimen risiko global dan dinamika harga komoditas dinilai menjadi katalis penting bagi pergerakan rupiah.

“Kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut berpotensi menjaga rupiah dalam rentang fluktuasi yang moderat, dengan bias pergerakan masih sensitif terhadap arah dolar AS,” ujar Taufan.

Penulis :
Ahmad Yusuf