Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

CORE Ingatkan Pemerintah Tetap Jaga Hilirisasi di Tengah Kesepakatan Tarif Dagang Indonesia-AS

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

CORE Ingatkan Pemerintah Tetap Jaga Hilirisasi di Tengah Kesepakatan Tarif Dagang Indonesia-AS
Foto: (Sumber: Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) berbincang dengan Menteri Investasi dan Hilirasasi Rosan Roeslani saat menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym.)

Pantau - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengingatkan pemerintah agar tetap menjaga agenda hilirisasi di tengah kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang memberikan fasilitas bea masuk 0 persen bagi 1.819 pos tarif produk asal Indonesia ke pasar AS.

Kesepakatan tersebut tertuang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade yang mencantumkan ribuan pos tarif memperoleh pembebasan bea masuk, meski secara umum AS tetap memberlakukan tarif resiprokal sebesar 19 persen terhadap produk impor dari Indonesia.

Mayoritas pos tarif yang mendapat fasilitas 0 persen merupakan komoditas mentah seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, dan karet yang belum diolah atau belum memiliki nilai tambah.

Faisal mengatakan, "Kalau komoditas utama sawit, kopi, kakao, bukan berarti tidak bagus untuk eksportir yang bahan mentah, ya, (tentu) akan menguntungkan. Tapi bagaimana dengan agenda hilirisasi? Hilirisasi itu salah satu supporting policy-nya adalah dari sisi perdagangan memang merestriksi ekspor bahan mentah. Entah itu total ban atau larangan secara menyeluruh atau dengan memberikan hambatan dalam ekspor seperti ada biaya keluar."

"Dan itu diperlukan supaya masuk industri hilir, karena investor di industri hilir perlu memastikan kecukupan bahan baku di domestik," ujar dia menambahkan.

Ia mencontohkan komoditas kakao yang selama ini justru mengalami kekurangan pasokan di dalam negeri karena produksi terbatas dan sebagian besar lebih memilih diekspor akibat keuntungan yang lebih tinggi.

"Misalnya kakao, selama ini malah kita kekurangan, karena selain produksi di dalam negeri makin lama makin terbatas, sementara yang sudah diproduksi pun banyak prefer untuk di ekspor ke luar negeri daripada ke dalam negeri karena lebih cuan," ujar dia.

Faisal menegaskan pemerintah tidak boleh melupakan agenda percepatan hilirisasi untuk mendorong penguatan industri dalam negeri, baik sektor pengolahan hasil pertanian dan perkebunan maupun pertambangan.

"Jadi kalau ada mengurangi lagi hambatan untuk mengekspor bahan mentah, makin mudah orang untuk mengekspor bahan mentah ini dan makin susah untuk kita mendorong hilirisasi perkebunan, yang mana ini merupakan agenda prioritas pemerintah," katanya.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia memberikan tarif 0 persen bagi sejumlah produk asal AS terutama komoditas pertanian seperti gandum dan kedelai, serta menyepakati tidak adanya Bea Masuk atas transaksi ekonomi digital.

Kedua negara juga mencatat komitmen pembelian komoditas energi AS sekitar 15 miliar dolar AS, pengadaan pesawat Boeing sekitar 13,5 miliar dolar AS, serta pembelian produk pertanian AS lebih dari 4,5 miliar dolar AS.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Tria Dianti