
Pantau - Kementerian Pertanian memasok 1,7 ton cabai rawit merah ke Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) Jakarta guna menjaga stabilitas pasokan dan mengendalikan harga di tingkat konsumen selama momentum Ramadhan 1447 Hijriah.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan Muhammad Agung Sunusi menyatakan, "Ini merupakan bagian dari upaya konkret pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan mengendalikan harga cabai rawit merah di tingkat konsumen," di Jakarta, Selasa.
Ia menegaskan bahwa pasokan ke PIKJ akan terus diperkuat melalui dukungan champion cabai di berbagai sentra produksi.
"Pasokan ke PIKJ akan terus kami jaga. Champion cabai di sentra produksi siap mengirimkan cabai rawit merah secara berkelanjutan agar kebutuhan masyarakat selama Ramadan tetap terpenuhi," ujar Agung.
Harga cabai rawit merah yang disuplai oleh champion cabai ditetapkan di kisaran Rp50.000 per kilogram.
Untuk menjaga harga tetap terjangkau, pemerintah melalui Fasilitasi Distribusi Pangan Badan Pangan Nasional memberikan subsidi biaya transportasi dari sentra produksi ke Pasar Induk Kramat Jati.
"Dengan skema tersebut, harga tertinggi di tingkat konsumen diharapkan tidak melebihi Rp65.000 per kilogram," ucap Agung.
Harga Komoditas Hortikultura Relatif Stabil
Secara umum, harga komoditas hortikultura lainnya relatif stabil di pasaran.
Harga cabai rawit putih berada di kisaran Rp30.000 per kilogram.
Harga cabai keriting hijau berada di kisaran Rp25.000 per kilogram.
Harga cabai besar merah berada di kisaran Rp40.000 per kilogram.
Harga cabai keriting merah berada di kisaran Rp50.000 per kilogram.
Dari seluruh jenis cabai tersebut, hanya cabai rawit merah yang mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Curah Hujan dan Tradisi Nyekar Picu Kenaikan
Kenaikan harga cabai rawit merah di awal Ramadhan dipengaruhi oleh curah hujan tinggi di sejumlah sentra produksi.
Intensitas hujan yang meningkat menyebabkan aktivitas pemetikan tidak dapat dilakukan secara optimal sehingga pasokan sempat tertahan.
Selain faktor cuaca, tradisi nyekar atau ziarah kubur di berbagai daerah menjelang Ramadhan turut meningkatkan permintaan cabai di awal puasa.
Agung menjelaskan, "Curah hujan tinggi membuat petani tidak bisa melakukan pemetikan optimal. Ditambah peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Ramadhan menyebabkan harga sempat naik. Namun, dengan intervensi distribusi ini, kami optimistis harga segera stabil," beber Agung.
Sesuai kebijakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Kementan memastikan akan terus memantau perkembangan harga dan pasokan cabai di seluruh wilayah Indonesia.
Koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, champion cabai, serta pemangku kepentingan lainnya terus diperkuat untuk menjaga kelancaran distribusi dari sentra produksi ke pasar.
"Intervensi distribusi akan terus dilakukan secara responsif apabila terjadi lonjakan harga, sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan harga terjangkau," kata Agung.
Upaya stabilisasi tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat selama bulan suci Ramadhan.
- Penulis :
- Shila Glorya








