HOME  ⁄  Nasional

Teknologi Pangan Praktis Dinilai Krusial untuk Menjamin Konsumsi Jamaah Haji di Situasi Terbatas

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Teknologi Pangan Praktis Dinilai Krusial untuk Menjamin Konsumsi Jamaah Haji di Situasi Terbatas
Foto: (Sumber : Menu makanan jamaah calon haji. Seorang juru masak menunjukkan contoh hidangan untuk jamaah calon haji selama dalam penerbangan saat tes makanan (meal test) di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (17/4/2026). Kegiatan tersebut untuk memastikan standardisasi makanan yang disajikan kepada jamaah calon haji selama berada dalam pesawat saat penerbangan ke Tanah Suci. Antara Jatim/Didik Suhartono/abs.)

Pantau - Inovasi pangan praktis menjadi solusi penting untuk menjawab tantangan penyediaan konsumsi jamaah haji Indonesia di tengah keterbatasan fasilitas selama pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.

Tantangan Distribusi dan Konsumsi di Arafah, Muzdalifah, dan Mina

Kondisi padat dan minim fasilitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina membuat akses terhadap makanan menjadi sangat terbatas bagi jamaah.

Tidak tersedianya dapur pribadi serta keterbatasan waktu akibat padatnya rangkaian ibadah menjadikan makanan praktis sebagai kebutuhan utama.

Dalam situasi tersebut, penyediaan pangan tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga menyangkut kelayakan konsumsi dan keberlangsungan ibadah jamaah.

Tantangan yang dihadapi pemerintah meliputi memastikan ketersediaan makanan dalam jumlah besar, menjaga kualitas dan keamanan konsumsi, serta memastikan distribusi berjalan lancar.

Inovasi Teknologi Pangan Jadi Solusi

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria menyampaikan bahwa pengembangan teknologi makanan siap saji menjadi jawaban atas tantangan tersebut.

Ia mengungkapkan, "Salah satu jawaban atas tantangan tersebut adalah pengembangan teknologi makanan siap saji."

Teknologi tersebut mencakup berbagai inovasi pengemasan seperti makanan kaleng, kemasan fleksibel untuk hidangan berkuah, hingga teknologi pemanas tanpa api yang memudahkan konsumsi di lapangan.

Pengembangan ini dilakukan untuk memastikan makanan tetap aman, berkualitas, dan mudah dikonsumsi dalam kondisi terbatas.

Inovasi pangan ini diharapkan mampu mendukung kelancaran layanan haji serta menjaga kesehatan jamaah selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Penulis :
Ahmad Yusuf