Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Analis Ingatkan Risiko IHSG Tertekan Imbas Konflik Timur Tengah

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Analis Ingatkan Risiko IHSG Tertekan Imbas Konflik Timur Tengah
Foto: (Sumber: Pekerja berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nz/am.)

Pantau - Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengingatkan potensi tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan akibat memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang dinilai telah menjadi risiko ekonomi global.

Pola Risk-Off dan Ancaman Capital Outflow

Hendra menyatakan pasar global langsung merespons situasi tersebut dengan kecenderungan menghindari aset berisiko.

"Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven," ujarnya.

Ia menjelaskan jika eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di Selat Hormuz maka harga minyak global berpotensi melonjak akibat risiko gangguan pasokan.

Dampak lanjutan dapat menjalar ke inflasi global, nilai tukar, hingga kebijakan suku bunga di berbagai negara.

Menurutnya tekanan terhadap pasar modal Indonesia berpotensi datang dari capital outflow akibat pengurangan eksposur investor asing di emerging market serta risiko inflasi impor karena kenaikan harga energi.

Jika harga minyak bertahan tinggi maka biaya produksi meningkat dan margin emiten berpotensi tertekan.

Proyeksi Level IHSG dan Strategi Investor

Hendra memproyeksikan IHSG berpotensi melemah dan menguji support di level 8.133 dan jika ditembus maka area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya dengan resistance terdekat di 8.300.

Ia menilai tidak semua sektor terdampak negatif terutama sektor komoditas yang berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga energi.

Bagi investor agresif momentum sektor komoditas dinilai dapat dimanfaatkan dengan manajemen risiko ketat sementara investor konservatif disarankan wait and see sambil memantau perkembangan konflik dan arus dana asing.

"Dalam situasi geopolitik yang panas, kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali," tegasnya.

Pada penutupan perdagangan Jumat (27/02) IHSG ditutup menguat tipis 0,23 poin ke posisi 8.235,49 sementara indeks LQ45 turun 3,53 poin ke posisi 834,36.

Frekuensi perdagangan tercatat 2.526.942 transaksi dengan total 47,64 miliar saham diperdagangkan senilai Rp38,24 triliun yang terdiri dari 341 saham naik, 315 saham turun, dan 163 saham stagnan.

Penulis :
Gerry Eka