Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Analis Proyeksikan IHSG Bergerak Volatile di Tengah Eskalasi Geopolitik dan Tekanan Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Analis Proyeksikan IHSG Bergerak Volatile di Tengah Eskalasi Geopolitik dan Tekanan Global
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Pengunjung mengambil gambar layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (26/6/2025). ANTARA FOTO/Fauzan/rwa/pri. (ANTARA FOTO/FAUZAN).)

Pantau - Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan ini akibat meningkatnya risiko geopolitik global.

Ia menyatakan, "IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi dengan support di 8.031 dan resistance di 8.437,".

Eskalasi konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat serta ketegangan di Asia Selatan meningkatkan premi risiko global, terutama terkait perkembangan situasi di Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi energi dunia.

Imam mengatakan, "Ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia,".

Ia menyebut, "Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global,".

Kenaikan harga minyak dan batu bara berpotensi menopang sektor energi dan pertambangan apabila harga komoditas bertahan tinggi, namun lonjakan yang terlalu tajam dan berkepanjangan dapat meningkatkan risiko inflasi global serta tekanan nilai tukar rupiah.

Imam mengatakan, "Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik maka volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko,".

Ia menegaskan arah IHSG dalam jangka pendek sangat bergantung pada apakah kenaikan harga energi tetap terkendali dan mendukung emiten komoditas atau justru berubah menjadi shock inflasi yang menekan stabilitas makro.

Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, perubahan kebijakan perdagangan AS, serta peringatan lembaga pemeringkat kredit terhadap tekanan fiskal Indonesia menciptakan kehati-hatian di pasar keuangan.

Ia menyatakan, "Kombinasi isu ini menciptakan kondisi kehati-hatian di pasar keuangan global hingga pasar domestik,".

Selat Hormuz yang menjadi jalur transit sekitar 20-25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia per hari berpotensi mengguncang pasar energi global jika terjadi gangguan.

Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global era Donald Trump yang kemudian direspons dengan rencana kenaikan tarif impor menjadi 15 persen serta penetapan bea masuk anti-subsidi panel surya dari beberapa negara termasuk Indonesia.

Imam mengatakan, "Ketentuan tarif tinggi ini dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait,".

S&P Global Ratings juga memperingatkan tekanan fiskal Indonesia meningkat dengan rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan bertahan di atas 15 persen.

Ia menyatakan, "Peringatan ini menambah kehati-hatian investor dan pembuat kebijakan dalam menanggapi gejolak global sambil mengelola tantangan fiskal domestik,".

Awal Maret 2026 akan diwarnai rilis data penting seperti PMI Manufaktur Indonesia, Neraca Perdagangan, Inflasi, PMI ISM Manufaktur dan Jasa AS, PMI NBS China, Initial Jobless Claims AS, Cadangan Devisa Indonesia, Non-farm Payrolls AS, serta Tingkat Pengangguran AS.

Penulis :
Aditya Yohan