
Pantau - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan impor minyak mentah dari Amerika Serikat telah mulai berlangsung secara bertahap sebagai bagian dari kebijakan pengalihan sumber impor minyak Indonesia dari kawasan Timur Tengah.
Bahlil mengatakan, "Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap."
Ia menjelaskan bahwa impor minyak tidak dapat dilakukan sekaligus karena Indonesia memiliki keterbatasan kapasitas fasilitas penyimpanan minyak mentah atau storage.
Percepat Pembangunan Fasilitas Penyimpanan
Selain mengalihkan impor minyak dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, pemerintah juga mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan minyak nasional.
Langkah tersebut juga menjadi respons terhadap situasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah berencana meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak nasional yang saat ini hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 25 hingga 26 hari.
Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat hingga 90 hari atau sekitar tiga bulan sesuai standar internasional terkait cadangan energi.
Bahlil mengatakan, "Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera dibangun. Supaya apa? Kita ini kan butuh survival."
Proyek Direncanakan Dibangun di Sumatera
Pemerintah telah mendapatkan investor yang akan terlibat dalam pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tersebut.
Fasilitas penyimpanan minyak tersebut direncanakan akan dibangun di wilayah Sumatera.
Saat ini proyek pembangunan tersebut masih berada pada tahap feasibility study atau studi kelayakan.
Setelah tahap studi kelayakan selesai, proyek akan memasuki tahap pembangunan.
Bahlil menargetkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tersebut dapat dimulai pada tahun 2026.
- Penulis :
- Aditya Yohan







