
Pantau - Pertanian regeneratif dinilai menjadi solusi strategis dalam menghadapi perubahan iklim ekstrem, terutama saat Indonesia memasuki masa transisi dari La Nina menuju El Nino.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Pertanian
Perubahan cuaca yang ditandai dengan suhu tinggi hingga lebih dari 35 derajat Celsius mulai dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu maksimum harian pada 20 Maret 2026 berada di kisaran 35,2 hingga 35,7 derajat Celsius.
Bahkan, suhu di Jawa Barat sempat mencapai 37,2 derajat Celsius pada 13 Maret 2026.
Kondisi ini menandakan dominasi cuaca panas yang berpotensi berdampak pada sektor pertanian, terutama saat memasuki fase El Nino yang identik dengan kemarau kering.
Strategi Adaptasi dan Pertanian Regeneratif
Dalam menghadapi kondisi tersebut, pertanian regeneratif menjadi pendekatan yang bertujuan merevitalisasi tanah sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Salah satu strategi yang dilakukan petani adalah memanen air hujan dengan membuat cekungan di lahan serta menampung air menggunakan lapisan terpal.
Selain itu, penyekatan saluran air di sekitar lahan juga dilakukan untuk menahan aliran air agar tidak langsung terbuang ke sungai.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air saat musim kemarau tiba.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian, khususnya komoditas padi, di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin ekstrem.
- Penulis :
- Aditya Yohan







