
Pantau - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan alasan pemerintah menahan kenaikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga laju ekonomi agar tidak melambat di tengah ketidakpastian global.
Kebijakan tersebut diambil pemerintah dengan mempertimbangkan dampak langsung terhadap masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang dinilai paling rentan terhadap kenaikan harga energi.
Purbaya menegaskan kenaikan harga BBM akan meningkatkan beban hidup masyarakat meskipun kerap dianggap dapat memperluas ruang fiskal negara.
"Yang pertama, yang jelas ketika BBM naik, beban hidup rakyat banyak, utamanya yang berpenghasilan kecil kan terganggu," ungkapnya.
Dampak Ekonomi dan Perpindahan Beban
Dari sisi ekonomi, Purbaya menilai kenaikan harga BBM pada dasarnya hanya memindahkan beban dari pemerintah kepada masyarakat tanpa menciptakan efisiensi nyata.
"Yang kedua kalau dari sisi ekonomi itu kan tinggal mindahin, kalau saya naikkin BBM-nya, uangnya jadi punya saya, tapi rakyat harus bayar lebih dan itu bisa melambatkan ekonominya," ia mengungkapkan.
Ia juga mempertanyakan efektivitas pemerintah dalam mengelola tambahan ruang fiskal dibandingkan dengan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Efisiensi Pengeluaran dan Kebijakan Fiskal
Menurut Purbaya, dalam jangka pendek masyarakat dinilai lebih efisien dalam menggunakan uang karena pengeluaran dilakukan sesuai kebutuhan.
"Kalau masyarakat yang belanjakan, itu sesuai kebutuhan sehingga lebih tepat sasaran. Kalau pemerintah, bisa saja dibagi rata ke kementerian atau lembaga sehingga efisiensinya berkurang," ujarnya.
Kebijakan menahan subsidi BBM ini juga bertujuan menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan perlindungan masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pemerintah tetap menjalankan efisiensi anggaran tanpa menaikkan harga energi yang berpotensi menekan konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi.
- Penulis :
- Leon Weldrick








