
Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan lebih kering dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir serta datang lebih awal dengan durasi lebih panjang.
Kemarau Lebih Kering dan Dipengaruhi El Nino
Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab menjelaskan kondisi kemarau tahun ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang mulai aktif sejak akhir April hingga awal Mei 2026.
"Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun," ungkapnya.
Ia menegaskan informasi yang menyebut kemarau 2026 sebagai yang paling ekstrem atau disebut “El Nino Godzilla” tidak sepenuhnya benar dan cenderung berlebihan.
BMKG Minta Mitigasi Tanpa Kepanikan
Fachri menambahkan bahwa meski El Nino berpengaruh terhadap penurunan curah hujan, fenomena tersebut bukan penyebab utama terjadinya musim kemarau.
"Perlu pula diketahui El Nino dan musim kemarau itu kedua barang yang berbeda gitu ya. Walaupun El Nino mempengaruhi intensitas dari musim kemarau, tapi musim kemarau bukan karena ada El Nino," ujarnya.
BMKG memperkirakan intensitas El Nino yang saat ini masih lemah akan meningkat menjadi moderat pada Agustus hingga Oktober 2026.
Ia mengingatkan masyarakat dan pemerintah untuk menanggapi kondisi ini secara serius dengan langkah mitigasi, tanpa menimbulkan kepanikan.
"Kolaborasi lintas sektor dan masyarakat untuk melakukan mitigasi menjadi hal yang paling penting," kata Fachri.
- Penulis :
- Aditya Yohan








