
Pantau - Ekonom menekankan pentingnya ketahanan pasokan bahan baku plastik guna menjaga keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah di tengah tekanan global yang memicu kenaikan harga dan gangguan distribusi.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyebut ketergantungan tinggi industri plastik terhadap impor menjadi tantangan utama bagi stabilitas sektor tersebut.
Ketergantungan Impor dan Dampak ke UMKM
Nailul menjelaskan sekitar 70 persen bahan baku industri plastik Indonesia masih bergantung pada impor, terutama dari kawasan Timur Tengah.
"Dalam jangka pendek, memenuhi pasokan dalam negeri menjadi sangat penting agar harga plastik menurun. Jika tidak, ada kenaikan harga layanan di dalam negeri mencapai 30 persen. Mulai dari industri laundry dan UMKM lainnya sangat rentan sekali terhadap kenaikan harga plastik. Di satu sisi, harus ada pengembangan plastik berbahan baku yang tersedia masal di dalam negeri dan harganya terjangkau," ujarnya.
Ia menambahkan tekanan global turut dipicu oleh ketegangan geopolitik akibat gagalnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
"Salah satu dampak dari gagalnya negosiasi antara Iran-US ini adalah ketidakpastian ekonomi global terutama terkait dengan perdagangan. Harga minyak dipastikan akan tetap tinggi, dan biaya perdagangan internasional akan meningkat juga,” ungkapnya.
Diversifikasi Pasokan dan Tantangan Industri
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono menyatakan kebutuhan bahan baku nafta meningkat signifikan seiring ekspansi industri.
“Kalau dari industri petrokimia, tahun 2024 catatannya memang sekitar 2,7 juta ton per tahun. Tapi di tahun 2025, karena ada pabrik baru, kebutuhan nafta kita itu sebenarnya sudah 4,5 juta ton,” jelasnya.
Ia menyebut industri mulai mencari sumber alternatif dari Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika sebagai langkah diversifikasi pasokan.
“Kalau kiriman nafta dari Middle East ke Indonesia itu kan hanya 10 sampai 15 hari. Kemudian kalau dari luar itu paling cepat 50 hari,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini membuat industri menghadapi tekanan biaya, risiko keterlambatan pasokan, serta fluktuasi harga yang tinggi.
“Sekarang kita sudah bisa mencari alternatif bahan baku pengganti nafta, yaitu yang pertama adalah kondensat. Kemudian yang kedua adalah LPG,” tambahnya.
Pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas pasokan agar tidak membebani industri kecil menengah di tengah ancaman kelangkaan bahan baku global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Ahmad Yusuf








