
Pantau - Pemerintah Indonesia menyerukan negara-negara Asia-Pasifik untuk memperkuat kerja sama regional dalam Sesi ke-38 Konferensi Regional FAO untuk Asia dan Pasifik (APRC38) yang berlangsung di Brunei Darussalam pada Kamis (23/4).
Seruan tersebut disampaikan kepada para menteri dari negara anggota Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan dan memperkuat kolaborasi kawasan.
Dorong Kolaborasi dan Transformasi Sistem Pangan
“Negara Anggota FAO di Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia, telah sangat aktif dalam berbagai inisiatif FAO yang mendukung solusi lokal,” ungkap Plt Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI Ali Jamil.
Ia menyatakan Indonesia mengusulkan pembentukan wadah transformasi sistem pangan sub-regional Asia Tenggara guna meningkatkan koordinasi, pertukaran pengetahuan, serta dukungan pembiayaan melalui kerja sama Selatan-Selatan.
Selain itu, Indonesia juga tengah menjajaki reformasi struktural dan penguatan tata kelola dengan menempatkan petani sebagai pusat transformasi sistem pangan dan pertanian.
Menurut Ali, sektor pertanian berkontribusi sekitar 14 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menopang lebih dari 40 juta penduduk Indonesia yang mayoritas merupakan petani kecil.
Tekanan Global dan Pentingnya Ketahanan Pangan
Dalam pembukaan konferensi, Putra Mahkota Brunei Darussalam Pangeran Al Muhtadee Billah menyoroti meningkatnya tekanan terhadap sistem pangan akibat perubahan iklim dan ketegangan geopolitik.
“Kita bertemu di waktu yang penting. Sistem pangan di seluruh wilayah berada di bawah tekanan yang meningkat; perubahan iklim telah mempengaruhi cara kita menanam dan memproduksi pangan, ekosistem alami telah tertekan, dan rantai pasokan masih rentan,” katanya.
Ia juga menekankan konflik di Timur Tengah yang berdampak pada perdagangan global dan energi sehingga ketahanan pangan harus menjadi fokus utama negara-negara di kawasan.
Sementara itu, Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu menyebut kenaikan harga energi dan pupuk serta ketidakpastian global turut meningkatkan volatilitas pasar komoditas pertanian.
“Kita harus membangun ketahanan dari dalam, karena tidak ada bantuan eksternal yang akan berkelanjutan tanpa kemauan kolektif kita sendiri,” kata Qu.
Sebagai informasi tambahan, kawasan Asia-Pasifik mencakup lebih dari separuh populasi dunia dan produksi pangan global, namun masih menghadapi tingkat kerawanan pangan yang tinggi dibandingkan kawasan lainnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








