
Pantau - Nilai tukar rupiah masih dibayangi sentimen risk-off akibat ketidakpastian proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Ketegangan Global Tekan Pergerakan Rupiah
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah.
“Sentimen ini dipicu oleh laporan bahwa Gedung Putih masih menunggu respons Iran sebelum memulai negosiasi perdamaian. Investor menafsirkan pernyataan tersebut sebagai sinyal masih tingginya ketidakpastian terkait proses perdamaian,” ucapnya.
Pada Jumat pagi, rupiah tercatat menguat tipis 6 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.280 per dolar AS.
Ketegangan meningkat setelah gencatan senjata antara AS dan Iran belum menghasilkan kesepakatan konkret dan diikuti langkah blokade terhadap pelabuhan Iran.
Proyeksi dan Data Ekonomi Pendukung
Josua memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.225 hingga Rp17.350 per dolar AS.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan ketahanan dengan peningkatan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur menjadi 54,0 dan sektor jasa ke 51,3.
Meski demikian, klaim pengangguran awal di AS meningkat menjadi 214 ribu, menunjukkan adanya tekanan di pasar tenaga kerja.
Kombinasi faktor geopolitik dan data ekonomi global tersebut menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
- Penulis :
- Aditya Yohan








