HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Berpotensi Melemah di Tengah Tekanan Rupiah dan Sentimen Global yang Memburuk

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Berpotensi Melemah di Tengah Tekanan Rupiah dan Sentimen Global yang Memburuk
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/bar/pri..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak melemah meski sempat dibuka menguat 29,02 poin atau 0,41 persen ke level 7.158,51 pada perdagangan Senin pagi di Bursa Efek Indonesia.

Tekanan Global dan Rupiah Bayangi IHSG

Analis PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek cenderung mixed dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah akibat sentimen global dan pelemahan rupiah.

"Fokus pasar kini tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100-7.150. Apabila level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup gap berikutnya di area 7.022-7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917," ujarnya.

Ia menjelaskan kondisi global saat ini didominasi aksi risk-off yang dipicu ketidakpastian geopolitik, termasuk belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu stabilitas energi global.

Ekspektasi kebijakan bank sentral AS yang cenderung hawkish juga mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi.

Faktor Domestik dan Respons Kebijakan

Dari dalam negeri, tekanan datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.315 per dolar AS serta kenaikan harga BBM nonsubsidi sejak 18 April.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan inflasi, terutama pada sektor transportasi dan logistik, serta menekan daya beli masyarakat.

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen dan melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas.

"Kebijakan ini diiringi dengan intervensi di pasar valas serta optimalisasi instrumen moneter guna meredam volatilitas," kata Brigita.

Meski demikian, pasar diperkirakan tetap berhati-hati dalam jangka pendek dengan sensitivitas tinggi terhadap inflasi dan stabilitas eksternal, sementara efektivitas kebijakan akan menjadi penentu arah aliran dana asing ke depan.

Penulis :
Ahmad Yusuf