
Jakarta, 5 Mei 2026
A. Perkembangan APBN hingga akhir Triwulan I 2026
1. Kinerja APBN hingga 31 Maret 2026 menunjukkan fondasi fiskal Indonesia tetap kuat, sehat, dan bekerja efektif. APBN terus hadir menjaga daya tahan ekonomi nasional, mendukung masyarakat, serta memastikan agenda pembangunan berjalan konsisten.
2. Secara rinci, Pendapatan Negara mencapai Rp574,9 triliun atau 18,2% APBN. Angka ini tumbuh 10,5% (yoy), memperlihatkan kapasitas pendapatan negara tetap terjaga dengan baik di tengah tantangan global.
3. Penerimaan Perpajakan mencapai Rp462,7 triliun (17,2% APBN) tumbuh 14,3% (yoy). Di dalamnya, Penerimaan Pajak terealisasi Rp394,8 triliun atau 16,7% APBN, dengan pertumbuhan yang sangat kuat sebesar 20,7% (yoy). Pertumbuhan ini didukung oleh perbaikan aktivitas usaha, harga komoditas yang tetap mendukung, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta transformasi digital administrasi perpajakan yang terus diperkuat. Sementara itu, Penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp67,9 triliun atau 20,2% APBN, meskipun masih mengalami kontraksi 12,6% (yoy). Capaian ini memberikan kontribusi penting dalam menopang penerimaan negara, sekaligus mendukung pengelolaan perdagangan dan perlindungan industri domestik.
4. Untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp112,1 triliun atau 24,4% APBN. Meskipun mengalami normalisasi dibanding tahun lalu, level ini tetap menunjukkan kontribusi yang baik terhadap struktur pendapatan negara. Realisasi PNBP hingga 31 Maret 2026 terkontraksi 3,0% (yoy), tetapi apabila PNBP KND (dividen BUMN) tidak diperhitungkan, maka PNBP tumbuh 7,0% (yoy).
5. Realisasi Belanja Negara tercapai Rp815,0 triliun atau 21,2% APBN, tumbuh 31,4% (yoy) jauh lebih cepat dibanding tahun sebelumnya. Akselerasi ini menunjukkan APBN bergerak cepat sejak awal tahun untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Di sisi Belanja Pemerintah Pusat (BPP) terdapat realisasi Rp610,3 triliun (19,4% APBN). Hal ini mencerminkan percepatan pelaksanaan program kerja prioritas nasional, belanja Kementerian/Lembaga, perlindungan sosial, serta berbagai program yang langsung menyentuh masyarakat. Sementara itu, untuk Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi Rp204,8 triliun (29,5% APBN). Pemerintah terus memastikan sinergi pusat dan daerah agar pelayanan publik, pembangunan infrastruktur daerah, pendidikan, kesehatan, dan penguatan ekonomi lokal berjalan optimal.
6. Program kerja prioritas diarahkan agar berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Hingga 31 Maret 2026, MBG telah terealisasi Rp55,3 triliun dengan menjangkau 61,8 juta penerima, serta telah melibatkan 26.066 SPPG.
7. APBN mencatatkan defisit Rp240,1 triliun (0,93% PDB), dengan keseimbangan primer negatif Rp95,8 triliun. Posisi ini masih sangat terjaga, terukur, dan sesuai desain APBN 2026. Pembiayaan anggaran juga dikelola secara prudent, efisien, dan fleksibel mengikuti dinamika pasar keuangan. 1/2
B. Perkembangan Perekonomian
1. Sampai dengan akhir Maret 2026, ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik mendorong kenaikan harga energi dan berdampak pada aktivitas perekonomian global. Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah menjaga APBN sebagai peredam gejolak, sementara sektor manufaktur masih bertahan di zona ekspansi, menandakan ekonomi tetap berjalan meski melambat.
2. Indonesia tetap memiliki resiliensi yang kuat dengan buffer ekonomi yang relatif baik dibanding negara lain. Ketahanan ini penting di tengah proyeksi ekonomi global yang melemah dan tekanan inflasi yang meningkat, yang membuat ruang gerak ekonomi dunia semakin sempit. Ketahanan ini tercermin dari surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan serta kinerja ekspor yang tetap solid, sementara peningkatan impor yang didominasi bahan baku dan barang modal menunjukkan aktivitas produksi dan investasi domestik yang masih ekspansif.
3. Pada awal tahun 2026, ekonomi Indonesia menunjukkan fondasi yang sangat solid dan penuh optimisme. Pertumbuhan ekonomi di Triwulan I tercatat 5,61% (yoy), menunjukkan fondasi pertumbuhan yang kokoh di tengah dinamika global. Pertumbuhan ini didorong oleh kuatnya permintaan domestik dan ekspansi sektor-sektor produktif. Pengeluaran pemerintah pada Triwulan I turut memberi dorongan penting melalui peningkatan realisasi belanja APBN dan pelaksanaan program prioritas untuk menjaga momentum pertumbuhan.
4. Pertumbuhan tersebut didukung inflasi Triwulan I yang terkendali dengan baik pada level 3,48% yang bersifat temporer dan telah menurun di bulan April ke level 2,42%. Ketahanan sektor keuangan tetap terjaga di tengah tekanan global. Pemerintah terus aktif menjaga stabilitas Rupiah, yield SBN, dan market confidence.
5. Pasar SBN tetap solid di tengah dinamika pasar keuangan global. Incoming bid dan rata-rata bid-to-cover ratio lelang SBN tetap solid di tengah dinamika pasar global. Pasar SBN mencatatkan net inflow sebesar Rp13,4 triliun pada bulan April, mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian Indonesia. Yield menurun, spread SBN rupiah terhadap UST lebih rendah dibandingkan banyak peers, mencerminkan risiko yang terkendali.
6. Pemerintah bersama BI dan OJK akan terus memantau dinamika global untuk memastikan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga, sehingga mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.
7. Dengan pengelolaan fiskal yang prudent dan koordinasi kebijakan yang solid, Pemerintah optimistis APBN 2026 akan terus menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
- Penulis :
- Shila Glorya





