HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Permata Bank Proyeksikan Pertumbuhan Kredit 2026 Tertahan di Kisaran 8,5 hingga 9,5 Persen di Tengah Ketimpangan Penya

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Ekonom Permata Bank Proyeksikan Pertumbuhan Kredit 2026 Tertahan di Kisaran 8,5 hingga 9,5 Persen di Tengah Ketimpangan Penya
Foto: Pekerja menyiapkan adonan roti di salah satu industri rumahan di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Kementerian UMKM mencatat realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga 21 April 2026 telah mencapai Rp84,8 triliun dari total alokasi Rp295 triliun. (sumber: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Pantau - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pertumbuhan kredit perbankan berpotensi tetap berada pada satu digit tinggi di tengah ketidakseimbangan antara likuiditas yang longgar dan permintaan kredit yang belum kuat di Indonesia.

Proyeksi Pertumbuhan Kredit dan Kondisi Terkini

Josua memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 berada di rentang 8,5 hingga 9,5 persen meskipun proyeksi Bank Indonesia berada di kisaran 8 hingga 12 persen.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen masih mendukung tetapi belum cukup untuk mendorong ekspansi kredit yang merata.

Pada Maret 2026, kredit perbankan tumbuh 9,49 persen dibanding tahun sebelumnya dan naik tipis dari Februari 2026 sebesar 9,37 persen.

Kredit investasi tercatat tumbuh kuat 20,85 persen sementara kredit modal kerja hanya tumbuh 4,38 persen dan kredit konsumsi 5,88 persen.

Likuiditas Bank dan Tantangan Penyaluran Kredit

Josua menilai ketimpangan pertumbuhan kredit menunjukkan pembiayaan masih didominasi investasi korporasi tertentu sementara aktivitas operasional usaha belum pulih optimal.

Ia mengingatkan bahwa tekanan nilai tukar rupiah dan harga energi dapat membuat pelaku usaha menahan ekspansi dan bank tetap selektif dalam penyaluran kredit.

Dana pihak ketiga tumbuh 13,55 persen lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit sehingga menunjukkan likuiditas perbankan masih longgar.

Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga berada di level 27,85 persen dan fasilitas kredit yang belum ditarik mencapai Rp2.527,46 triliun atau 22,59 persen dari plafon.

Menurutnya tantangan utama bukan pada ketersediaan dana melainkan kesiapan debitur dan penilaian kelayakan oleh bank.

Ia menambahkan penempatan Saldo Anggaran Lebih di perbankan dapat memperkuat likuiditas dan menjaga suku bunga kredit tetap stabil.

Namun efektivitas kebijakan tersebut tetap bergantung pada terciptanya kredit baru, sektor penerima pembiayaan, dan kualitas kredit yang terjaga.

Secara umum intermediasi perbankan dinilai masih tumbuh tetapi belum sekuat pertumbuhan likuiditas yang ada di sistem keuangan.

Penulis :
Shila Glorya