HOME  ⁄  Ekonomi

Peneliti Indef Menilai Lonjakan Website Mandiri UMKM Dipicu Persaingan Ketat Marketplace

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Peneliti Indef Menilai Lonjakan Website Mandiri UMKM Dipicu Persaingan Ketat Marketplace
Foto: Ilustrasi - Warga berbelanja daring di sebuah situs lokapasar. (sumber: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Pantau - Peneliti Center of Digital Economy and SMEs The Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Fadhila Maulida, menilai meningkatnya pelaku usaha yang beralih ke website mandiri mencerminkan transformasi ekonomi digital di Indonesia di tengah tingginya persaingan marketplace dan meningkatnya kebutuhan usaha digital.

Fadhila mengatakan keluhan mengenai biaya marketplace yang semakin tinggi kini ramai dibicarakan pelaku usaha di media sosial.

“Keluhan soal biaya marketplace yang semakin tinggi sedang naik daun. Dalam beberapa hari terakhir, linimasa di media sosial ramai dengan narasi tentang tingginya biaya administrasi marketplace yang membuat pelaku usaha mulai mempertimbangkan untuk membangun website sendiri,” ungkapnya.

Menurut Fadhila, fenomena tersebut tidak hanya dipicu tingginya biaya platform digital, tetapi juga menunjukkan perubahan mendasar dalam struktur ekonomi digital nasional.

Persaingan Penjual Dinilai Semakin Ketat

Fadhila menjelaskan terdapat dua faktor utama yang saling berkaitan dalam fenomena tersebut, yakni daya beli masyarakat dan kapasitas UMKM.

Dari sisi permintaan, ia menilai daya beli masyarakat menunjukkan tanda perlambatan meskipun secara agregat masih mengalami pertumbuhan.

Namun, pertumbuhan tersebut dinilai tidak sebanding dengan pesatnya peningkatan jumlah pelaku usaha digital yang masuk ke ekosistem marketplace.

“Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah UMKM yang masuk ke ekosistem digital meningkat secara signifikan. Namun, pertumbuhan transaksi atau gross merchandise value (GMV) justru cenderung melambat,” katanya.

Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan jumlah penjual meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan sehingga persaingan semakin tinggi dan peluang memperoleh penjualan optimal semakin sempit.

Di sisi lain, biaya platform digital juga terus meningkat seiring kompleksitas layanan yang disediakan marketplace.

Menurut Fadhila, marketplace kini tidak hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi telah berubah menjadi struktur ekonomi yang sepenuhnya dimonetisasi.

Platform digital saat ini menjalankan berbagai proses seperti akuisisi pelanggan dalam skala besar, sistem pembayaran, jaringan logistik terintegrasi, hingga kanal pemasaran berbasis algoritma.

Pelaku usaha pun harus menanggung berbagai biaya mulai dari biaya platform, biaya layanan, biaya promosi, biaya iklan digital, hingga biaya logistik antarwilayah yang masih tinggi.

“Pada akhirnya, yang terjadi adalah kombinasi tekanan yang cukup berat, pertumbuhan permintaan yang terbatas, kompetisi yang semakin tajam, serta kapasitas UMKM yang masih perlu ditingkatkan,” ujarnya.

Kapasitas UMKM Masih Jadi Tantangan

Fadhila menilai kapasitas UMKM masih menjadi persoalan mendasar dalam transformasi ekonomi digital Indonesia.

Menurutnya, kebijakan pemerintah dalam mendorong digitalisasi UMKM memang berhasil menurunkan hambatan masuk ke platform digital.

Namun, kemudahan akses tersebut belum selalu diikuti peningkatan kualitas dan kesiapan usaha para pelaku UMKM.

“Kemampuan untuk bersaing menjadi pertanyaan berikutnya, apakah UMKM sudah cukup siap atau belum? Faktanya, masih banyak pelaku usaha yang belum siap masuk ke marketplace,” ungkapnya.

Ia menjelaskan kesiapan UMKM mencakup strategi penetapan harga, kemampuan digital marketing, pengelolaan biaya, hingga pemanfaatan data pelanggan.

Fadhila menilai tantangan ekonomi digital saat ini bukan hanya membawa UMKM masuk ke platform digital, tetapi memastikan mereka mampu bertahan dan berkembang.

“Tanpa perbaikan daya beli masyarakat dan peningkatan kapasitas UMKM, transformasi digital berisiko hanya menjadi perluasan pasar yang tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan pelaku usahanya,” katanya.

Menurut Fadhila, marketplace saat ini telah menggabungkan berbagai fungsi distribusi secara terintegrasi seperti akses ke jutaan konsumen, sistem pembayaran, layanan logistik, perlindungan transaksi, hingga dukungan promosi dan diskon.

Karena itu, sebagian pelaku usaha memandang potongan biaya sekitar 20 persen bukan hanya sebagai biaya platform, melainkan biaya distribusi yang mencakup berbagai layanan tersebut.

Indef menilai tantangan terbesar ekonomi digital Indonesia saat ini adalah menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan bagi seluruh pihak.

“Dibutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan platform, perlindungan pelaku usaha, serta penguatan daya beli masyarakat agar ekonomi digital dapat tumbuh lebih inklusif,” ujar Fadhila.

Penulis :
Leon Weldrick