
Pantau - Kementerian Ketenagakerjaan atau Kemnaker menyatakan lulusan perguruan tinggi yang siap kerja menjadi solusi utama untuk menjawab kebutuhan industri terhadap tenaga kerja berdaya saing di tengah perubahan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.
Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi menyampaikan hal tersebut usai memberikan kuliah tamu di Politeknik Negeri Malang, Kota Malang, Jawa Timur.
Cris mengatakan kebutuhan tenaga kerja saat ini berbeda dibandingkan kebutuhan 10 tahun lalu maupun kebutuhan pada masa mendatang.
“Kebutuhan tenaga kerja di sektor ketenagakerjaan saat ini tidak bisa disamakan dengan 10 tahun lalu atau dengan 20-30 tahun ke depan, sehingga seberapa siap kampus menyediakan lulusan yang benar-benar siap dengan dunia kerja,” ungkap Cris.
Ia menilai semakin banyak lulusan terserap ke lapangan kerja maka upaya menekan angka pengangguran akan semakin cepat.
“Kalau kemampuan lulusan dari kampus sudah diakui dia biasanya akan langsung diminta masuk ke perusahaan,” katanya.
Angka Pengangguran Turun pada 2026
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS per 5 Mei 2026, jumlah pengangguran di Indonesia pada 2026 tercatat sebanyak 7,24 juta orang.
Angka tersebut turun sekitar 35 ribu orang dibandingkan Februari 2025.
Jumlah penduduk yang bekerja pada Februari 2026 tercatat mencapai 147,67 juta orang.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT pada Februari 2026 berada di level 4,68 persen.
Angka tersebut turun 0,08 persen dibandingkan Februari 2025.
Sektor pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta industri menjadi sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja nasional.
Ketiga sektor tersebut tercatat menyerap sekitar 60,29 persen tenaga kerja nasional.
Kemnaker Dorong Pelaporan Lowongan Kerja
Cris menyebut Kemnaker kini terus mendorong perusahaan lebih disiplin dalam melaporkan ketersediaan lapangan kerja.
“Kami akan mencoba wajib lapor lowongan kerja tidak hanya diperuntukkan kepada perusahaan yang menyediakan tetapi juga bagi yang tidak membuka lowongan,” ujar Cris.
Direktur Politeknik Negeri Malang Supriatna Adhisuwignjo mengatakan pihaknya terus meningkatkan kemampuan teknis dan nonteknis mahasiswa melalui praktik langsung di lapangan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko lulusan bekerja tidak sesuai dengan bidang keilmuan yang dipelajari.
“Sehingga harapannya mereka bisa langsung mengaplikasikan kemampuannya di dunia kerja,” kata Supriatna.
Ia menambahkan penyusunan kurikulum pendidikan di setiap program studi juga disesuaikan dengan kebutuhan industri.
“Kalau persoalan dinilai bisa masuk akan langsung dimanfaatkan project problem base, tetapi apabila membutuhkan aktivitas fisik bisa diselesaikan melalui magang mahasiswa atau nanti melalui tugas akhir mahasiswa,” ungkapnya.
- Penulis :
- Shila Glorya





