
Pantau - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat pagi melemah 24 poin atau 0,14 persen menjadi Rp17.357 per dolar Amerika Serikat akibat meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Walaupun tidak berlangsung lama, namun telah memberikan sinyal negatif terhadap keberlangsungan negosiasi AS dan Iran,” kata Rully di Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan konflik memicu kenaikan harga minyak dunia sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas ekonomi.
Konflik Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasar
Ketegangan meningkat setelah militer AS disebut menyerang sejumlah wilayah Iran, termasuk pantai pelabuhan Khamir, kota Sirik, Pulau Qeshm, dan dua kapal Iran.
Iran kemudian membalas dengan menyerang kapal perang Amerika Serikat di timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar.
Komando Pusat AS menyatakan pihaknya telah “menghilangkan ancaman yang masuk dan menargetkan fasilitas militer Iran tempat serangan dilakukan terhadap pasukan AS.”
Meski situasi dilaporkan kembali normal, pasar tetap mencermati dampak konflik terhadap jalur distribusi energi global.
Pasar Tunggu Data NFP dan Cadangan Devisa BI
Selain konflik geopolitik, investor juga menanti rilis data Non Farm Payrolls atau NFP Amerika Serikat yang akan menjadi acuan arah kebijakan Federal Reserve.
“Data NFP diperkirakan turun menjadi tambahan 60 ribu pekerja dibanding kenaikan 178 ribu periode sebelumnya,” ujar Rully.
Dari dalam negeri, pasar juga menunggu pengumuman data cadangan devisa Bank Indonesia yang diperkirakan meningkat di atas 150 miliar dolar AS pada April 2026.
- Penulis :
- Aditya Yohan





