HOME  ⁄  Ekonomi

Garam Kristal Modern Juntinyuat Jadi Harapan Baru Swasembada Garam Nasional

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Garam Kristal Modern Juntinyuat Jadi Harapan Baru Swasembada Garam Nasional
Foto: (Sumber: Petani saat memanen garam pada fasilitas tunnel yang terintegrasi dengan sistem SWRO di Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.)

Pantau - Pesisir Desa Juntinyuat mulai menjadi pusat pengembangan garam kristal modern melalui penerapan sistem tunnel dan teknologi sea water reverse osmosis atau SWRO.

Di kawasan tersebut, para petani memanen kristal garam putih dengan kualitas lebih bersih dibanding metode tambak tradisional.

Hamparan geomembran hitam pada tunnel membuat warna garam tampak lebih putih tanpa semburat kecokelatan seperti garam tambak biasa.

Salah satu petani garam, Sujitno, sebelumnya bekerja sebagai petani padi dan peternak sebelum mengembangkan usaha garam kristal bersama rekannya.

“Kawasan Juntinyuat itu bagus. Ada sawah, ada laut, ada peternak juga bisa,” kata Sujitno.

Pembangunan satu tunnel garam membutuhkan waktu sekitar tiga bulan dengan biaya sekitar Rp40 juta.

Produksi perdana garam kristal di lokasi tersebut baru berjalan sekitar setengah bulan dengan hasil panen mencapai lima kuintal atau sekitar 10 karung.

Di area produksi, seorang operator muda bernama Afwan mengoperasikan mesin SWRO yang digunakan untuk menyaring air laut sebelum masuk ke petak produksi garam.

Air laut terlebih dahulu diendapkan selama lima hari agar kotoran mengendap sebelum diproses melalui mesin penyaring.

Mesin SWRO kemudian memisahkan air laut menjadi air tawar dan air tua berkadar garam tinggi sebagai bahan baku kristalisasi.

Teknologi SWRO membuat hasil produksi garam lebih bersih karena seluruh aliran air sudah melalui tahap penyaringan dan tidak tercemar lumpur atau kotoran.

Afwan mengatakan harga garam berkualitas tinggi dapat mencapai Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram dengan kadar natrium klorida atau NaCl mencapai 98 persen.

Ketua Koperasi Sae Nalendra Darma Raga Carmadi menjelaskan mesin SWRO mampu menghasilkan sekitar 2.000 liter air per jam dengan sekitar 1.000 liter menjadi bahan kristalisasi garam.

“Kalau konsumsi rumah tangga sekitar 30 hari sudah cukup, tetapi kalau mau masuk industri pangan, waktunya lebih panjang,” ujar Raga Carmadi.

Saat ini terdapat 11 tunnel produksi di Juntinyuat dengan kapasitas sekitar tiga ton garam per bulan untuk setiap tunnel.

Raga Carmadi mengatakan pengembangan garam kristal berangkat dari kegelisahan karena Indonesia masih melakukan impor garam.

“Kenapa garam saja kita harus impor? Pasarnya jelas. Sayang kalau potensi alam di Indramayu tidak dilirik. Kejar swasembada itu benar dan bisa terealisasi,” kata Raga Carmadi.

Permintaan garam industri disebut sangat besar hingga pernah mencapai 200 ribu ton dari luar daerah.

Selain garam konsumsi, koperasi juga mulai mengembangkan produk garam spa setelah hasil laboratorium menunjukkan kualitas produknya memenuhi syarat.

Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri menilai inovasi garam kristal di Indramayu menjadi terobosan penting dalam upaya meningkatkan produksi garam nasional.

“Mudah-mudahan inovasi yang sangat baik ini akan sustain, akan berkelanjutan,” ujar Rokhmin.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP juga menjalankan program intensifikasi dan modernisasi garam rakyat di Indramayu untuk mendukung target swasembada garam nasional 2027.

Program tersebut mencakup revitalisasi tambak, perbaikan saluran air, penguatan sarana produksi, hingga pembangunan gudang penyimpanan garam.

Teknologi tunnel dan SWRO dinilai mampu membantu petani menjaga produksi garam tetap berjalan meski musim hujan berlangsung lebih panjang.

Penulis :
Gerry Eka