HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Dibuka Melemah, Saham Tambang Tertekan Sentimen Kenaikan Royalti Mineral

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Dibuka Melemah, Saham Tambang Tertekan Sentimen Kenaikan Royalti Mineral
Foto: (Sumber: Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). IHSG pada Jumat (24/4) ditutup melemah 249,12 poin atau 3,38 persen ke posisi 7.129,49, sementara indeks LQ45 turun 25,12 poin atau 3,51 persen ke posisi 690,76. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/bar.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada Senin pagi dibuka melemah 9,46 poin atau 0,14 persen ke level 6.959,94 di tengah tekanan pada saham sektor tambang akibat sentimen kenaikan tarif royalti mineral.

Sentimen Global dan Kebijakan Royalti Bayangi Pasar

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan pergerakan IHSG dalam tiga hari perdagangan ke depan akan dipengaruhi dinamika geopolitik global dan kebijakan tarif royalti komoditas.

“Laju pergerakan IHSG selama tiga hari perdagangan ke depan akan banyak dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global dan kebijakan tarif royalti komoditas,” ujar Hari di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan perhatian pasar global saat ini tertuju pada pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang diperkirakan membahas konflik Iran.

Menurut Hari, kondisi tersebut berpotensi mempersempit ruang negosiasi terkait tarif perdagangan dan pasokan rare earth sehingga ketidakpastian pasar masih akan bertahan.

Selain itu, pasar domestik juga mencermati agenda rebalancing MSCI Indonesia pada 12 Mei 2026 yang dinilai dapat memicu rotasi portofolio dan volatilitas saham berkapitalisasi besar.

Saham Tambang Tertekan Kenaikan Royalti

Hari menyebut sektor pertambangan masih dibayangi sentimen kenaikan tarif royalti mineral yang ditargetkan mulai berlaku pada Juni 2026.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebelumnya menggelar sidang dengar pendapat pada 8 Mei 2026 terkait usulan perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak.

Menurutnya, emas menjadi komoditas dengan kenaikan tarif paling signifikan secara persentase di batas bawah hingga mencapai 100 persen.

Sementara itu, timah dinilai sebagai komoditas yang paling terdampak karena kenaikan tarif terjadi di kedua ujung rentang royalti.

“Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata,” kata Hari.

Ia menambahkan wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah ketidakpastian khususnya bagi subsektor nikel dan batu bara.

Investor Diminta Selektif Hadapi Volatilitas

Hari menilai pergerakan IHSG pada periode 11 hingga 13 Mei 2026 berpotensi bergerak mixed dengan kecenderungan terbatas.

Ia menyebut penguatan indeks masih bergantung pada aliran dana domestik dan kemampuan saham big caps di luar sektor minerba menopang pasar.

“Dalam kondisi ini investor disarankan untuk tetap selektif dengan pendekatan trading-oriented, memanfaatkan momentum pada sektor-sektor yang kuat, namun tetap disiplin dalam manajemen risiko,” ungkapnya.

Perdagangan bursa pekan ini juga berlangsung lebih singkat karena adanya libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus pada 14 hingga 15 Mei 2026.

Penulis :
Ahmad Yusuf