HOME  ⁄  Ekonomi

Indonesia Optimistis INNOPROM 2026 Dorong Investasi dan Perkuat Daya Saing Industri Nasional

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Indonesia Optimistis INNOPROM 2026 Dorong Investasi dan Perkuat Daya Saing Industri Nasional
Foto: Wakil Menteri Perindustrian RI Faisol Riza menerima cinderamata dari Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia, Alexey Gruzdev pada acara Pertemuan Bilateral Indonesia-Russia di St. Petersburg, Rusia, Selasa 28/4/2026 (sumber: Kemenperin)

Pantau - Kementerian Perindustrian optimistis partisipasi Indonesia sebagai Partner Country dalam INNOPROM 2026 di Rusia dapat memacu investasi, memperkuat kemitraan industri, serta meningkatkan daya saing industri nasional.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan momentum partisipasi Indonesia di INNOPROM 2026 harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperluas kerja sama strategis dengan Rusia.

“Partisipasi ini penting untuk memperluas investasi, memperkuat kemitraan industri, mendorong transfer teknologi, dan meningkatkan daya saing industri nasional,” ungkap Faisol.

INNOPROM 2026 dijadwalkan berlangsung di Rusia pada 6-9 Juli 2026 dan dinilai menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperluas kolaborasi industri dengan Rusia.

Pertemuan Bilateral Bahas Kerja Sama Strategis

Penguatan kerja sama industri menjadi fokus dalam pertemuan bilateral antara Faisol Riza dan Alexey Vladimirovich Gruzdev dalam rangkaian Indonesia-Russia Business and Investment Forum 2026 di Saint Petersburg pada 28 April 2026.

Faisol menyampaikan Indonesia memandang Rusia sebagai mitra strategis jangka panjang dalam pembangunan industri nasional.

“Kami ingin memastikan seluruh potensi kerja sama yang telah dibahas dapat segera diwujudkan menjadi langkah nyata yang memberikan manfaat bagi kedua negara,” ujar Faisol.

Ia menjelaskan pertemuan bilateral tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin di Moskow pada 13 April 2026.

Pertemuan kedua kepala negara tersebut menegaskan komitmen Indonesia dan Rusia untuk memperdalam kerja sama di berbagai sektor prioritas.

Indonesia dan Rusia juga menilai hubungan bilateral kedua negara menunjukkan tren yang semakin positif dalam beberapa tahun terakhir.

Hingga Oktober 2025, nilai perdagangan nonmigas Indonesia-Rusia tercatat mencapai 4,04 miliar dolar AS dengan pertumbuhan yang konsisten sejak 2020.

Realisasi investasi Rusia di Indonesia juga terus berkembang meski masih memiliki peluang besar untuk ditingkatkan.

Fokus pada Industri dan Percepatan Implementasi Kerja Sama

Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya percepatan implementasi seluruh potensi kerja sama yang telah diidentifikasi kedua negara.

Indonesia mendorong agar kerja sama tersebut diwujudkan dalam program yang terukur dan berkelanjutan.

Momentum INNOPROM 2026 dinilai dapat menjadi penggerak utama percepatan implementasi berbagai kerja sama Indonesia-Rusia.

Sejumlah sektor strategis yang menjadi fokus pembahasan meliputi industri manufaktur, galangan kapal, petrokimia, farmasi dan alat kesehatan, serta pengembangan teknologi industri.

Indonesia dan Rusia juga menyepakati percepatan implementasi Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement atau I-EAEU FTA yang ditargetkan mulai berlaku pada tahun depan.

I-EAEU FTA diharapkan menjadi platform strategis untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan volume perdagangan kedua negara.

Pertemuan bilateral turut membahas percepatan implementasi sejumlah kesepakatan strategis lainnya, termasuk finalisasi Memorandum of Understanding atau MoU on Industrial Cooperation.

MoU tersebut akan menjadi payung hukum untuk memperkuat kolaborasi industri secara lebih sistematis dan berkelanjutan.

Penandatanganan nota kesepahaman tersebut ditargetkan berlangsung bertepatan dengan momentum INNOPROM 2026.

Indonesia dan Rusia juga memandang forum multilateral BRICS strategis dalam mendukung transformasi industri dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Kedua negara menilai BRICS Centre for Industrial Competences atau BCIC dapat menjadi sarana memperkuat kerja sama industri di masa depan.

Penulis :
Shila Glorya