HOME  ⁄  Ekonomi

NEXT Nilai Hilirisasi dan Diversifikasi Ekspor Jadi Kunci Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru Indonesia

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

NEXT Nilai Hilirisasi dan Diversifikasi Ekspor Jadi Kunci Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru Indonesia
Foto: Ilustrasi - Suasana bongkar muat peti kemas untuk barang-barang dan komoditas ekspor dan impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Pantau - Kepala Riset NEXT Indonesia Center Ade Holis menilai penguatan hilirisasi dan diversifikasi ekspor menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing perdagangan sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia di tengah dinamika perdagangan global.

Menurut Ade, pengembangan industri hilir pada sektor unggulan seperti sawit, mineral, dan manufaktur perlu dipercepat agar ekspor Indonesia didominasi produk bernilai tambah tinggi.

Hilirisasi Dinilai Perkuat Struktur Ekspor

"Hal yang lebih penting adalah membangun struktur ekspor yang lebih beragam, bernilai tambah tinggi, dan mampu bertahan menghadapi gejolak ekonomi global. Dengan fondasi seperti itu, ekspor bersih akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang," ungkap Ade.

Ia mengatakan strategi tersebut tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga membuka pasar baru, menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri dalam negeri, serta meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Ade menambahkan penguatan sektor ekspor utama dapat dilakukan melalui hilirisasi industri sawit, pengembangan industri pengolahan mineral, serta peningkatan daya saing industri besi dan baja, elektronik, otomotif, produk kimia, dan manufaktur.

"Melalui langkah-langkah tersebut, Indonesia tidak hanya berpeluang mengembalikan surplus neraca perdagangan, tetapi juga membangun struktur ekspor yang lebih produktif, lebih tangguh terhadap gejolak global, serta mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.

Surplus Perdagangan Menyempit

Kajian NEXT Indonesia Center berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar 4 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Mei 2026.

Pada periode tersebut nilai ekspor mencapai 115,4 miliar dolar AS atau tumbuh 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, pertumbuhan impor sebesar 15,24 persen menyebabkan ruang surplus perdagangan semakin menyempit.

Ade menilai defisit neraca perdagangan sebesar 1,6 miliar dolar AS pada Mei 2026 harus menjadi momentum untuk mempercepat transformasi struktur ekspor melalui hilirisasi dan diversifikasi produk agar perdagangan Indonesia lebih kuat dan berkelanjutan.

Penulis :
Gerry Eka