HOME  ⁄  Ekonomi

Panglima TNI Agus Subiyanto Dorong Swasembada Kedelai Lewat Perluasan Lahan dan Dukungan Teknologi

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Panglima TNI Agus Subiyanto Dorong Swasembada Kedelai Lewat Perluasan Lahan dan Dukungan Teknologi
Foto: Kegiatan panen raya kedelai di Desa Ngudikan, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kamis 14/5/2026 (sumber: ANTARA/Asmaul)

Pantau - Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyatakan TNI mendukung program peningkatan produksi pangan nasional, termasuk kedelai, untuk menekan impor dan mewujudkan swasembada kedelai di Indonesia dalam acara panen raya kedelai di Desa Ngudikan, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Agus Subiyanto mengatakan peningkatan produksi kedelai membutuhkan dukungan banyak pihak karena Indonesia masih bergantung pada impor kedelai dalam jumlah besar.

"Volume impor kedelai mencapai 2,65 juta ton sepanjang tahun 2025. Amerika Serikat menjadi pemasok terbanyak karena mungkin Amerika Serikat kan tidak makan kedelai, makannya gandum," kata Agus Subiyanto.

Indonesia tercatat masih menjadi negara pengimpor kedelai terbesar dengan total impor sebesar 2,21 juta ton atau 86,55 persen dari total volume impor.

Nilai impor kedelai Indonesia pada 2025 mencapai Rp21,2 triliun.

Program Penanaman Kedelai di Nganjuk

Program penanaman kedelai di Kabupaten Nganjuk dilakukan di tiga kecamatan dengan total lahan mencapai 2.300 hektare dan estimasi hasil panen sekitar 3.400 ton.

Kecamatan Rejoso memiliki luas tanam 1.110 hektare dengan estimasi hasil panen antara 1.665 ton hingga 1.887 ton.

Kecamatan Bagor memiliki luas tanam 510 hektare dengan estimasi hasil panen antara 765 ton hingga 867 ton.

Kecamatan Wilangan memiliki luas tanam 380 hektare dengan estimasi hasil panen antara 570 ton hingga 646 ton.

Desa Ngudikan di Kecamatan Wilangan menjadi lokasi panen raya kedelai dengan luas lahan mencapai 100 hektare.

Total area tanaman kedelai di Kecamatan Wilangan mencapai 400 hektare.

Penanaman kedelai tersebut menggunakan varietas unggul lokal asal Jawa Tengah yang dinilai memiliki produktivitas tinggi dan masa panen lebih cepat.

Estimasi hasil panen kedelai di Nganjuk mencapai 1,5 ton hingga 1,7 ton per hektare.

TNI Siapkan Dukungan Lahan dan Teknologi

Agus Subiyanto menyebut kebutuhan impor kedelai Indonesia pada 2025 mencapai 2,67 juta ton sehingga Indonesia membutuhkan tambahan produksi nasional minimal sebesar angka tersebut untuk menghentikan impor.

Untuk mencapai swasembada kedelai, Indonesia diperkirakan membutuhkan tambahan lahan panen nasional sekitar 1,53 juta hektare hingga 1,73 juta hektare.

"Kondisi ini memberikan gambaran bahwa swasembada kedelai harus dilakukan secara bertahap, terukur dan masif melalui perluasan lahan tanam kedelai di wilayah potensial," kata Agus Subiyanto.

TNI berencana mendukung pemanfaatan lahan tidur milik TNI maupun desa untuk penanaman kedelai di berbagai daerah.

Dukungan TNI juga mencakup penggunaan benih unggul, perbaikan sistem irigasi dan drainase, serta mekanisasi penanaman, pemeliharaan, dan panen.

Panglima TNI menilai jaminan penyerapan hasil panen dengan harga yang menguntungkan petani menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi kedelai nasional.

Perum Bulog diharapkan ikut mendukung pembelian kedelai hasil panen petani agar program swasembada dapat berjalan optimal.

Agus Subiyanto berharap program penanaman kedelai tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi model gerakan nyata yang diterapkan di berbagai wilayah Indonesia.

Program tersebut diharapkan dapat diterapkan di lahan potensial milik TNI, pemerintah daerah, maupun masyarakat.

Panglima TNI juga mengapresiasi sinergi antara TNI, Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, petani, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mendukung peningkatan produksi kedelai nasional.

"Jadikan panen raya ini sebagai momentum untuk memperkuat kemandirian pangan nasional," kata Agus Subiyanto.

Kegiatan panen raya tersebut turut dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Nganjuk, serta tamu undangan lainnya.

Penulis :
Arian Mesa