
Pantau - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin melemah 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.744 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.717 per dolar AS seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Tekanan The Fed Bayangi Pergerakan Rupiah
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi pernyataan salah satu gubernur Bank Sentral Amerika Serikat, Christopher Waller, yang membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak sesuai target.
“Salah satu gubernur Bank Sentral Amerika yaitu Christopher Waller, dia mengatakan bahwa jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target, dia tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga. Kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat-pejabat lainnya untuk menaikkan suku bunga,” ungkap Ibrahim.
Ia menilai Ketua The Fed Kevin Warsh juga berpotensi mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga apabila inflasi Amerika Serikat masih tetap tinggi.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut memperbesar peluang suku bunga tinggi bertahan hingga akhir tahun 2026.
Pasar saat ini juga menunggu sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, mulai dari data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026, data sektor perumahan, indikator inflasi pilihan The Fed, hingga indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti.
Sentimen Global dan Defisit Anggaran Jadi Sorotan
Selain sentimen suku bunga, pasar juga mencermati optimisme terhadap potensi kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, Ibrahim menilai masih terdapat sejumlah persoalan yang dapat menghambat kesepakatan tersebut, terutama terkait Selat Hormuz, uranium Iran, dan dana Iran yang dibekukan sejak era 1970-an.
“Kita harus ingat juga bahwa apakah nota kesepakatan ini akan ditandatangani atau tidak, karena yang lebih penting itu adalah tentang masalah uranium. Kemudian yang kedua tentang masalah dana yang dibekukan dari tahun 70-an. Ya, ini pun juga cukup menarik dan saya kemungkinan besar beranggapan bahwa perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total,” ujarnya.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut sentimen negatif masih berasal dari persoalan defisit anggaran yang menjadi perhatian pelaku pasar.
“Walaupun harga minyak mengalami penurunan, tetapi rupanya masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tapi Indonesia memerah,” katanya.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat melemah dari Rp17.717 per dolar AS menjadi Rp17.743 per dolar AS.
- Penulis :
- Shila Glorya





