HOME  ⁄  Ekonomi

Kerja Sama China dan Indonesia Fokus Kembangkan Manufaktur Cerdas Berkelanjutan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kerja Sama China dan Indonesia Fokus Kembangkan Manufaktur Cerdas Berkelanjutan
Foto: (Sumber : Gletser Sermeq Kujalleq yang terletak 80 km sebelah selatan Ibu Kota Nuuk terlihat meleleh akibat perubahan iklim dan pemanasan global di Greenland, Sabtu (11/9/2021). /ANTARA FOTO/REUTERS/Hannibal Hanschke/wsj..)

Pantau - Kerja sama antara China dan Indonesia terus diperkuat dalam pengembangan manufaktur cerdas, industri hijau, dan pembangunan berkelanjutan pada Forum Kemitraan Revolusi Industri Baru BRICS 2026 di Xiamen, Provinsi Fujian, China.

Forum yang dibuka pada Rabu (27/5) itu dihadiri perwakilan pemerintah, perusahaan, dan organisasi internasional dari 27 negara.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Republik Indonesia Tri Supondy mengatakan transformasi industri global kini dipacu perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI), robotika, big data, dan internet industri.

“Bagi negara-negara Global South, transformasi ini menjadi hal yang mendesak. Kita perlu meningkatkan pengembangan sumber daya manusia, memperkuat kerja sama internasional, dan memperbarui teknologi. Indonesia percaya tidak ada satu negara pun yang dapat menjalani transformasi ini sendirian,” ujarnya.

Tri juga memperkenalkan peta jalan nasional “Making Indonesia 4.0” serta mendorong penguatan kolaborasi antarnegara BRICS.

“Kami percaya bahwa melalui kerja sama dalam mengembangkan teknologi cerdas, menetapkan standar cerdas, dan membina talenta-talenta unggul, kita dapat membangun lanskap industri yang siap menghadapi masa depan,” ungkapnya.

Industri Manufaktur Indonesia Tumbuh Positif

Tri menyebut sektor manufaktur Indonesia pada kuartal pertama 2026 tumbuh sebesar 5 persen dan berkontribusi lebih dari 19 persen terhadap produk domestik bruto nasional.

Selain itu, ekspor manufaktur selama Januari hingga Februari 2026 menyumbang lebih dari 80 persen total ekspor Indonesia.

Kepala Pusat Kebijakan Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital RI Oki Suryowahono mengatakan Indonesia ingin memperkuat kerja sama teknologi dengan China.

“Kami berharap dapat bekerja sama dengan berbagai produsen dari China, khususnya di bidang teknologi. Kami tidak ingin hanya menjadi konsumen, tetapi juga ingin menjadi produsen,” kata Oki.

Proyek Baterai dan Industri Hijau Jadi Sorotan

Salah satu proyek strategis yang menjadi perhatian dalam forum tersebut adalah pembangunan proyek baterai terintegrasi di Indonesia oleh CATL bersama ANTAM dan Indonesia Battery Corporation (IBC).

Proyek senilai hampir 6 miliar dolar AS itu mencakup penambangan nikel, produksi material baterai, manufaktur baterai kendaraan listrik, hingga daur ulang baterai.

Pendiri dan CEO CATL Zeng Yuqun mengatakan proyek tersebut diperkirakan menciptakan lebih dari 8.000 lapangan kerja langsung dan 35.000 pekerjaan tidak langsung.

“Bagi negara-negara BRICS, teknologi nol karbon bukanlah beban, melainkan peluang baru untuk meningkatkan daya saing di masa depan,” ujarnya.

Pabrik baterai fase pertama di Karawang nantinya memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 6,9 GWh serta dilengkapi sistem energi terbarukan dengan tingkat daur ulang logam lebih dari 95 persen.

Kolaborasi Bisnis dan Teknologi Terus Berkembang

Selain sektor energi hijau, kerja sama bisnis juga diperkuat melalui Xiangyu Group yang membangun proyek peleburan baja tahan karat terintegrasi di Indonesia.

Hingga Desember 2025, proyek tersebut telah menciptakan sekitar 12.000 lapangan kerja lokal dan menghasilkan nilai perdagangan lebih dari 20,8 miliar dolar AS.

Sementara itu, CEO PT Nusantara Innovation Global Evlin Marcelline membawa proyek sistem manajemen pintar rumah sakit ke forum BRICS untuk mencari mitra strategis dari China.

“Saya berharap dapat menemukan mitra di Xiamen dan juga berencana membuka kantor di sini untuk memahami regulasi dan kebijakan di China maupun Xiamen,” kata Evlin.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Ahmad Yusuf