HOME  ⁄  Ekonomi

Maraknya Misinformasi Dorong Pentingnya Budaya Verifikasi di Era Digital

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Maraknya Misinformasi Dorong Pentingnya Budaya Verifikasi di Era Digital
Foto: (Sumber : Penandatanganan MoU kemitraan strategis antara Danone melalui PT Sarihusada dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dilakukan CEO Danone Antoine de Saint-Affrique (kiri) dan Kepala BGN Dadan Hindayana (kanan) di saksikan Presiden RI Prabowo Subianto (duduk kanan) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron (duduk kiri), di Istana Merdeka Jakarta Rabu (28/5/2025). (Antara/HO/Danone).)

Pantau - Maraknya penyebaran informasi yang cepat di era digital dinilai semakin menegaskan pentingnya budaya verifikasi untuk mencegah terbentuknya opini publik yang didasarkan pada informasi yang belum lengkap atau belum terkonfirmasi kebenarannya.

Informasi Cepat Menyebar, Fakta Sering Tertinggal

Perkembangan teknologi digital memungkinkan informasi menyebar dalam hitungan detik dan menjangkau jutaan orang melalui berbagai platform media sosial.

Kondisi tersebut menghadirkan tantangan baru karena batas antara fakta, opini, asumsi, dan spekulasi semakin sulit dibedakan oleh masyarakat.

Fenomena ini terlihat dalam perdebatan publik terkait kerja sama antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan PT Sarihusada Generasi Mahardhika yang ditandatangani pada Mei 2025.

Kerja sama yang disaksikan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron itu berfokus pada skrining anemia serta edukasi gizi.

Namun, informasi tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai spekulasi di ruang digital, termasuk dugaan keterkaitan dengan pengadaan susu formula dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Padahal, Kepala BGN Dadan Hindayana telah menjelaskan bahwa kerja sama tersebut berfokus pada skrining zat besi, pemetaan risiko anemia, serta edukasi gizi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Program MBG yang berjalan sejak Januari 2025 juga disebut tidak memasukkan produk susu formula ke dalam menu penerima manfaat.

Verifikasi Dinilai Penting Sebelum Membentuk Opini

Perkembangan narasi yang melampaui substansi awal menunjukkan bagaimana informasi dapat mengalami perluasan makna ketika beredar tanpa konteks yang utuh.

Fenomena serupa juga terjadi pada berbagai isu lain di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, pangan, dan ekonomi.

Informasi yang belum diverifikasi kerap ditafsirkan ulang, diperkuat oleh potongan informasi lain, lalu berkembang menjadi keyakinan kolektif di masyarakat.

Di era media sosial, persepsi sering kali terbentuk lebih cepat dibandingkan proses verifikasi yang membutuhkan waktu dan data yang memadai.

Kondisi tersebut membuat klarifikasi resmi sering kali harus bekerja lebih keras untuk meluruskan informasi yang sudah terlanjur dipercaya publik.

Budaya verifikasi dinilai menjadi langkah penting agar masyarakat dapat memahami persoalan secara utuh sebelum menyimpulkan atau menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi.

Penulis :
Ahmad Yusuf