
Pantau - Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Jusuf Kuleh, menilai penguatan kurs dolar AS yang mencapai Rp17.814 per dolar AS dapat menjadi keuntungan bagi daerah berbasis ekspor komoditas seperti Kalimantan Timur.
Jusuf mengatakan daerah penghasil batu bara, minyak bumi, gas alam cair (LNG), dan kelapa sawit berpotensi memperoleh manfaat karena transaksi ekspor komoditas tersebut menggunakan mata uang dolar AS.
“Kenaikan kurs dolar AS terhadap rupiah bisa menjadi berkah bagi daerah yang berbasis ekspor komoditas, seperti Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang mengekspor batu bara, minyak bumi, gas alam cair (LNG), dan kelapa sawit, karena pembayaran menggunakan mata uang dolar AS,” ujarnya di Samarinda, Jumat.
Menurutnya, perusahaan tambang dan perkebunan di Kalimantan Timur berpotensi memperoleh keuntungan lebih besar sehingga dapat berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) melalui dana bagi hasil.
Potensi Inflasi dan Kenaikan Harga Pangan
Di sisi lain, Jusuf mengingatkan penguatan dolar AS juga membawa dampak negatif berupa kenaikan harga barang impor yang berpotensi memicu inflasi.
Ia menilai biaya logistik dan transportasi dapat meningkat sehingga berpengaruh terhadap harga kebutuhan pokok di pasar tradisional di Samarinda, Balikpapan, maupun Penajam Paser Utara.
Kondisi tersebut dinilai lebih terasa karena Kalimantan Timur bukan daerah produsen pangan utama sehingga sebagian besar kebutuhan pokok masih dipasok dari Pulau Jawa dan Sulawesi.
Selain itu, proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga berpotensi terdampak akibat kenaikan biaya yang berkaitan dengan penguatan dolar AS.
Minta Antisipasi Pelemahan Rupiah
Jusuf berharap Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar uang dan pasar spot guna menahan pelemahan rupiah agar tidak menembus batas psikologis baru.
Ia juga meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memanfaatkan peningkatan pendapatan ekspor untuk memperkuat program perlindungan sosial bagi masyarakat rentan.
“Rupiah yang kritis adalah ujian nyata bagi ketahanan ekonomi kita. Jika salah langkah dalam memitigasi risiko, angka Rp17.900 pada Kamis kemarin dan menjadi Rp17.800 Jumat ini, bukan sekadar rekor temporal, melainkan pintu masuk menuju krisis ekonomi, maka harus diantisipasi,” ungkapnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan





