HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat ke Level 6.209,78, Saham Konglomerasi dan Komoditas Jadi Penopang Utama

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

IHSG Menguat ke Level 6.209,78, Saham Konglomerasi dan Komoditas Jadi Penopang Utama
Foto: Ilustrasi - Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). (sumber: ANTARA/Muhammad Adimaja)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 79,59 poin atau 1,30 persen ke level 6.209,78 pada sesi II perdagangan Jumat, 29 Mei 2026 pukul 14.15 WIB, ditopang oleh penguatan saham-saham konglomerasi dan sektor komoditas.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menyatakan saham konglomerasi memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan indeks karena memiliki bobot yang signifikan dalam perhitungan IHSG.

"Penopang utama masih berasal dari sektor komoditas dan saham konglomerasi yang memiliki bobot cukup besar dalam IHSG. Saham tersebut memberikan kontribusi positif terhadap penguatan indeks hari ini," ungkap Reydi.

Sentimen Global dan Valuasi Saham Dorong Penguatan

Penguatan IHSG tidak hanya didukung faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi sentimen global yang lebih positif.

Reydi menjelaskan berkurangnya kekhawatiran investor terhadap berbagai isu eksternal turut meningkatkan optimisme pasar.

Selain itu, faktor teknikal juga berkontribusi terhadap pergerakan positif indeks.

Dari sisi domestik, investor memanfaatkan momentum valuasi saham-saham berkapitalisasi besar yang dinilai sudah cukup menarik setelah sebelumnya mengalami tekanan jual yang cukup dalam.

"Dari domestik, pasar juga memanfaatkan momentum valuasi saham-saham big caps yang sudah cukup menarik setelah sebelumnya mengalami tekanan jual cukup dalam," kata Reydi.

Meski IHSG menguat, investor asing masih menunjukkan sikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi di pasar Indonesia.

Investor asing dinilai masih melakukan seleksi ketat terhadap berbagai peluang investasi yang tersedia.

Stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga, serta perkembangan kebijakan ekonomi dan reformasi pasar modal masih menjadi perhatian utama investor asing.

"Karena itu, arus dana asing belum sepenuhnya kembali agresif," ujar Reydi.

Peluang Rebound Masih Terbuka

Dalam jangka pendek, Reydi memperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan rebound atau penguatan apabila sentimen global tetap kondusif dan tekanan jual investor asing berkurang.

Namun, ia mengingatkan ruang penguatan indeks masih berpotensi terbatas akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global.

"Namun penguatan masih berpotensi masih terbatas karena pasar masih dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian eksternal," ungkapnya.

Hingga sesi II pukul 14.15 WIB, frekuensi perdagangan saham tercatat mencapai 1.495.947 kali transaksi.

Volume perdagangan mencapai 23,73 miliar lembar saham.

Nilai transaksi di pasar tercatat sebesar Rp17,68 triliun.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor mengalami penguatan dengan sektor barang baku memimpin kenaikan sebesar 3,79 persen.

Sektor energi menguat 2,72 persen dan sektor infrastruktur naik 2,52 persen.

Sementara itu, empat sektor mengalami pelemahan dengan sektor properti mencatat penurunan terdalam sebesar 0,26 persen.

Sektor keuangan turun 0,24 persen dan sektor kesehatan melemah 0,03 persen.

Saham yang mencatat penguatan terbesar pada perdagangan tersebut adalah BREN, CUAN, BHAT, BUVA, dan BRPT.

Adapun saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah ASPR, MGNA, UNIC, PMUI, dan TALF.

Secara keseluruhan, penguatan IHSG pada perdagangan hari ini didorong oleh kombinasi sentimen global yang membaik, valuasi menarik pada saham-saham berkapitalisasi besar, serta kinerja positif sektor komoditas dan saham konglomerasi.

Penulis :
Arian Mesa