
Pantau - Pelemahan nilai tukar rupiah terus mencetak rekor baru hingga menembus kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS dan menandai tekanan ekonomi yang semakin dalam di Indonesia.
Himpitan Ganda dari Global dan Domestik
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut mencerminkan ekonomi Indonesia sedang menghadapi himpitan ganda antara tekanan global dan tantangan domestik.
Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai kondisi tersebut tidak lepas dari tekanan moneter global yang masih berlangsung serta persoalan struktural di sektor energi dan fiskal dalam negeri.
Rahma menyebut Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, namun langkah tersebut belum cukup menahan pelemahan rupiah.
Ia menjelaskan kondisi global “higher for much longer” membuat suku bunga tinggi di negara maju, terutama Amerika Serikat, bertahan lebih lama.
Rahma menilai penguatan indeks dolar dan kenaikan yield US Treasury membuat investor tetap memilih aset safe haven dibandingkan aset domestik.
Ia menyebut imbal hasil aset Indonesia masih dianggap belum cukup kompetitif untuk menarik aliran modal masuk secara signifikan.
Tekanan Pasar, Inflasi, dan Respons Kebijakan
Rahma menjelaskan pelemahan rupiah juga dipengaruhi menyempitnya pasokan devisa di tengah meningkatnya kebutuhan dolar untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen pada kuartal II.
Ia menilai ketidakseimbangan terjadi karena permintaan dolar meningkat sementara pasokan devisa melambat di pasar.
Rahma menambahkan kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah turut meningkatkan kebutuhan impor energi yang berbasis dolar AS.
Ia menyoroti eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mendorong harga minyak semakin tinggi dan menekan cadangan devisa.
Rahma juga menyebut pelemahan rupiah yang diikuti penurunan Indeks Harga Saham Gabungan di bawah level 7.000 menunjukkan sikap investor yang semakin defensif.
Ia menilai pasar mulai memperhatikan risiko pelebaran defisit anggaran serta kebijakan royalti tambang yang dinilai memberi tekanan pada emiten.
Rahma menjelaskan pelemahan rupiah berpotensi memperkuat inflasi impor karena meningkatnya biaya bahan baku industri.
Ia menilai kondisi tersebut dapat mendorong inflasi konsumen dan menekan daya beli masyarakat secara lebih luas.
Rahma menyebut kebijakan suku bunga saja tidak lagi cukup untuk meredam tekanan nilai tukar yang terjadi saat ini.
Ia menilai Bank Indonesia perlu melakukan langkah tambahan seperti intervensi di pasar valas dan DNDF serta optimalisasi instrumen SRBI dan SVBI untuk menjaga stabilitas dan menarik kembali aliran modal masuk.
Kondisi tersebut menunjukkan pelemahan rupiah tidak hanya bersifat fluktuasi jangka pendek, tetapi mencerminkan tekanan fundamental yang masih berlangsung di pasar keuangan Indonesia.
- Penulis :
- Arian Mesa





