HOME  ⁄  Ekonomi

Sumedang Catat Surplus Beras Lebih dari 190 Ribu Ton, Perkuat Ketahanan Pangan dan Modernisasi Pertanian

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Sumedang Catat Surplus Beras Lebih dari 190 Ribu Ton, Perkuat Ketahanan Pangan dan Modernisasi Pertanian
Foto: (Sumber: Petani melakukan proses perontokan padi saat panen di salah satu sentra produksi beras di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. ANTARA/Ilham Nugraha.)

Pantau - Kabupaten Sumedang mencatat surplus beras lebih dari 190 ribu ton pada 2025 setelah produksi padi mencapai sekitar 294 ribu ton, jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat yang hanya sekitar 103 ribu ton per tahun.

Keberhasilan tersebut menjadikan Sumedang sebagai salah satu daerah surplus beras di Jawa Barat sekaligus penopang pasokan pangan bagi wilayah lain.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Sumedang Tono Suhartono mengatakan surplus tersebut menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah.

“Produksi kita sekitar 294 ribu ton, sementara kebutuhan hanya 103 ribu ton. Artinya, kita memiliki surplus cukup besar, lebih dari 190 ribu ton,” ungkapnya.

Kecamatan Buahdua menjadi sentra produksi padi terbesar di Sumedang dengan hasil sekitar 43,19 ribu ton.

Produksi tersebut disusul Kecamatan Conggeang sebesar 32,18 ribu ton dan Kecamatan Ujungjaya sekitar 30,25 ribu ton.

Kecamatan Tanjungkerta menghasilkan sekitar 24,68 ribu ton, sedangkan Kecamatan Sumedang Selatan mencatat produksi sekitar 23,9 ribu ton.

Keberhasilan produksi pangan tersebut ditopang oleh luasnya lahan sawah, dukungan jaringan irigasi, serta pengalaman petani yang diwariskan secara turun-temurun.

Surplus beras yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat Sumedang, tetapi juga mendukung pasokan pangan bagi daerah lain di Jawa Barat.

Meski mencatat surplus besar, sektor pertanian Sumedang menghadapi tantangan perubahan iklim yang membuat pola musim hujan dan kemarau semakin sulit diprediksi.

Fenomena El Nino diperkirakan masih berdampak hingga awal 2027 dan berpotensi menurunkan hasil panen akibat berkurangnya pasokan air.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumedang memprioritaskan penguatan infrastruktur irigasi pertanian.

Saat ini jaringan irigasi pertanian di Sumedang mencapai sekitar 2,1 juta meter yang mengairi kurang lebih 30 ribu hektare lahan sawah.

Pemerintah daerah juga telah mengajukan pembangunan dan perbaikan sekitar 75 titik irigasi tersier kepada Kementerian Pekerjaan Umum.

“Pemetaan wilayah rawan kekeringan menjadi dasar pengajuan program kami ke pemerintah pusat,” kata Tono.

Selain irigasi, pemerintah mengembangkan program pompanisasi, pipanisasi, dan pembangunan sumur dalam untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian.

Uji coba pompa irigasi berbasis listrik disebut mampu meningkatkan efisiensi biaya operasional hingga 25 persen dibandingkan penggunaan pompa berbahan bakar minyak.

Pemerintah Kabupaten Sumedang juga memperkuat pengelolaan pupuk melalui pemetaan lahan dan kondisi tanah guna menjaga produktivitas pertanian.

Distribusi pupuk bersubsidi diperbaiki melalui pemutakhiran data RDKK dan E-RDKK agar penyalurannya lebih tepat sasaran.

Penggunaan pupuk organik dan hayati terus didorong untuk menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Di sisi lain, regenerasi petani menjadi tantangan karena banyak generasi muda masih menganggap sektor pertanian kurang menarik dibanding bidang pekerjaan lainnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menggandeng perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan pertanian dalam menyiapkan petani muda.

Generasi muda diperkenalkan pada digitalisasi pertanian, penggunaan alat dan mesin modern, serta pemanfaatan energi terbarukan.

Pemerintah juga mendorong pengembangan produk bernilai tambah seperti beras premium, beras organik, dan beras rendah residu pestisida untuk meningkatkan daya saing serta pendapatan petani.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan sektor pertanian Sumedang sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan daerah di masa mendatang.

Penulis :
Gerry Eka