HOME  ⁄  Ekonomi

BI Catat Arus Modal Asing Rp19,02 Triliun Pascakenaikan Suku Bunga, Rupiah Menguat terhadap Dolar AS

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

BI Catat Arus Modal Asing Rp19,02 Triliun Pascakenaikan Suku Bunga, Rupiah Menguat terhadap Dolar AS
Foto: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis 11/6/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Pantau - Bank Indonesia (BI) mencatat aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp19,02 triliun pada 10–11 Juni 2026 setelah BI-Rate dinaikkan menjadi 5,50 persen.

Arus Modal Asing dan Kepercayaan Investor

Aliran masuk dana nonresiden ke SRBI tercatat mencapai Rp15,11 triliun.

Sementara itu, aliran masuk dana nonresiden ke SBN mencapai Rp3,91 triliun.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, “⁠Pascakenaikan BI-Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik.”

Destry juga menyampaikan bahwa terdapat aliran masuk modal asing pada obligasi internasional Danantara.

Penjualan perdana obligasi internasional Danantara disebut berhasil mencapai Rp26,9 triliun.

Menurut Destry, “Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik.”

Pada Jumat, 12 Juni 2026, nilai tukar rupiah ditutup pada kisaran Rp17.865–Rp17.875 per dolar AS berdasarkan kurs bid-ask.

Nilai tersebut menguat sekitar 0,84 persen dibandingkan penutupan pada 5 Juni 2026 yang berada di kisaran Rp18.010–Rp18.020 per dolar AS.

Destry menilai penguatan rupiah mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia.

BI Perkuat Kebijakan dan Kerja Sama Internasional

Selain menaikkan BI-Rate menjadi 5,50 persen, BI juga memperkuat struktur suku bunga SRBI.

Bank Indonesia turut memberikan insentif hedging swap bagi investor asing.

Akses repo juga dibuka untuk mendukung likuiditas perbankan.

Intensitas operasi moneter dalam rupiah dan valuta asing turut ditingkatkan.

Destry mengatakan, “Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah.”

Ketahanan eksternal Indonesia juga diperkuat melalui kerja sama keuangan antara BI, People's Bank of China (PBOC), dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Kerja sama tersebut mencakup tiga kesepakatan utama.

Kesepakatan pertama adalah memperkuat sinergi guna meningkatkan ketahanan keuangan masing-masing negara sekaligus stabilitas keuangan regional.

Kesepakatan kedua berupa penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA).

Kesepakatan ketiga adalah penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transactions (LCT).

Menurut Destry, langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Upaya itu juga diharapkan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

BI menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia juga akan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur.

Selain itu, BI akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.

Upaya tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

Destry menyatakan, “Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju ke level fundamentalnya.”

Penulis :
Arian Mesa