HOME  ⁄  Ekonomi

KNI Catat Produksi 3,9 Juta Ton Amonium Nitrat hingga Akhir 2025 dan Perkuat Pasokan Domestik

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

KNI Catat Produksi 3,9 Juta Ton Amonium Nitrat hingga Akhir 2025 dan Perkuat Pasokan Domestik
Foto: (Sumber :Ilustrasi - PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) mencatat telah memproduksi lebih dari 3,9 juta metrik ton amonium nitrat dan mengekspor lebih dari 670 kiloton produk tersebut ke pasar internasional sepanjang 2012 hingga akhir 2025. ANTARA/HO-PT Kaltim Nitrate Indonesia.)

Pantau - PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) mencatat telah memproduksi lebih dari 3,9 juta metrik ton amonium nitrat dan mengekspor lebih dari 670 kiloton produk tersebut ke pasar internasional sepanjang 2012 hingga akhir 2025, sekaligus memperkuat pasokan bagi industri pertambangan nasional.

Produksi Domestik Kurangi Ketergantungan Impor

Direktur Utama PT Kaltim Nitrate Indonesia Twedy Nasution mengatakan keberadaan KNI membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor amonium nitrat yang menjadi bahan baku utama pembuatan bahan peledak industri pertambangan.

“KNI menunjukkan apa yang mampu dicapai Indonesia di sektor industri strategis, dengan mengubah ketergantungan terhadap impor menjadi pasokan domestik yang andal,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan keberhasilan tersebut tidak lepas dari kontribusi sumber daya manusia lokal yang mendukung operasional perusahaan di Bontang, Kalimantan Timur.

“Setelah 25 tahun, kebanggaan terbesar saya bukanlah jumlah tonase yang telah kami produksi, melainkan tim Indonesia di Bontang yang memungkinkan setiap ton tersebut terwujud,” katanya.

Fokus Perkuat Hilirisasi dan Keberlanjutan

Dengan kapasitas terpasang 366 kiloton per tahun, KNI menjadi salah satu pemasok utama amonium nitrat nasional dan pada 2024 membukukan produksi tahunan tertinggi sekitar 347 kiloton sebagai bagian dari peningkatan produktivitas.

Direktur Utama PT Armindo Prima Winniarlita Irfaie menyatakan, “Perjalanan ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk membangun industri strategis secara mandiri.”

Sementara itu, Direktur KNI sekaligus Wakil Direktur PT Armindo Prima Chrisna Deva menegaskan, “Kami melihat peluang besar untuk memperluas kapabilitas guna mendukung agenda pertambangan dan hilirisasi nasional.”

Selain meningkatkan kapasitas produksi, KNI juga menerapkan teknologi secondary abatement sejak 2023 yang mampu menurunkan emisi sekitar 9,6 persen atau setara 373 kiloton karbon dioksida ekuivalen per tahun.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Tria Dianti