billboard mobile
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Berpotensi Volatil Jelang Akhir Pekan, Investor Diminta Waspadai Kombinasi Sentimen Global dan Domestik

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Berpotensi Volatil Jelang Akhir Pekan, Investor Diminta Waspadai Kombinasi Sentimen Global dan Domestik
Foto: (Sumber :Arsip foto - Pekerja mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia berpotensi bergerak volatil pada perdagangan Jumat (19/6/2026) akibat kombinasi sentimen domestik dan global yang memengaruhi arah pasar menjelang akhir pekan.

IHSG dibuka melemah 10,88 poin atau 0,18 persen ke level 6.161,46.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga turun 2,37 poin atau 0,38 persen ke posisi 614,55.

MSCI dan Kenaikan BI Rate Jadi Sorotan

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyarankan investor untuk mencermati level teknikal penting dalam pergerakan indeks.

“Kiwoom Research sarankan para investor atau trader untuk monitor lekat-lekat level support terdekat (6.055), sekaligus memantau potensi break out yang bisa mendobrak neckline 6.300 demi menciptakan pola bullish reversal inverted head and shoulders,” ungkap Liza.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada laporan MSCI yang menurunkan skor Information Flow Indonesia dari "+" menjadi "-".

Penurunan tersebut dikaitkan dengan isu transparansi kepemilikan saham, free float, serta perilaku perdagangan terkoordinasi yang dinilai mengganggu proses pembentukan harga di pasar.

Investor juga menantikan hasil MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan diumumkan pada 24 Juni 2026.

Selain itu, Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi.

Sentimen Global Beri Arah Berlawanan

Dari pasar global, sentimen positif datang dari kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran yang dinilai mampu menekan risiko gangguan pasokan energi dunia serta meningkatkan minat terhadap aset berisiko.

Namun, sentimen tersebut berhadapan dengan sikap hawkish Federal Reserve di bawah kepemimpinan Kevin Warsh yang memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Menurut Liza, Citi menilai kombinasi proyeksi suku bunga yang lebih agresif, berkurangnya tekanan politik terhadap The Fed, dan belum adanya dampak kebijakan kecerdasan buatan dalam waktu dekat menjadi faktor utama penguatan dolar AS.

“Ke depan, fokus investor akan tertuju pada implementasi kesepakatan damai AS dengan Iran, negosiasi nuklir di Swiss, stabilitas arus pelayaran Selat Hormuz, serta sinyal lanjutan arah kebijakan moneter Eurozone dari para pejabat European Central Bank (ECB),” ujarnya.

Pada perdagangan Kamis (18/6), bursa saham Eropa bergerak variatif dengan Euro Stoxx 50 naik 0,29 persen, DAX Jerman menguat 0,37 persen, CAC 40 Prancis naik 0,44 persen, sementara FTSE 100 Inggris turun 1,14 persen.

Wall Street ditutup menguat dengan Dow Jones naik 0,14 persen, S&P 500 menguat 1,08 persen, dan Nasdaq Composite melonjak 2,48 persen.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei dan Strait Times bergerak di zona hijau, sedangkan bursa Shanghai dan Hang Seng libur memperingati Festival Perahu Naga.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Kemenkeu 2026