HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Anjlok 3,56 Persen ke Level 5.883, Investor Global Pilih Hindari Aset Berisiko

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Anjlok 3,56 Persen ke Level 5.883, Investor Global Pilih Hindari Aset Berisiko
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ditutup melemah 217,45 poin atau 3,56 persen ke posisi 5.883,88 seiring investor global memilih sikap risk off dengan menghindari aset berisiko, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.

Indeks LQ45 juga turun 20,26 poin atau 3,39 persen ke posisi 578,17.

Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menyatakan, "Dari eksternal, pasar masih mencermati arah suku bunga global, pergerakan yield US Treasury, serta penguatan dolar AS yang mendorong investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko di emerging markets."

Ia mengungkapkan, "Dari domestik, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS turut menekan sentimen pasar dan memicu aksi ambil untung."

Tekanan Global dan Pelemahan Rupiah Bebani Pasar

Elandry menjelaskan ketidakpastian arah suku bunga global, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), dan penguatan dolar AS menjadi faktor eksternal yang menekan pasar.

Sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko di negara berkembang juga memperbesar tekanan jual di pasar saham Indonesia.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS dan meningkatnya aksi ambil untung investor turut memperburuk sentimen perdagangan.

Investor juga masih menunggu kejelasan implementasi berbagai kebijakan fiskal dan program prioritas pemerintah.

Pelaku pasar berupaya mengukur dampak kebijakan tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, dan keberlanjutan fiskal jangka panjang.

Elandry menyatakan, "Hasil review MSCI yang belum membawa perubahan status Indonesia juga membuat pasar belum memperoleh katalis positif baru dalam jangka pendek."

Saat ini investor asing masih cenderung mengambil posisi wait and see terhadap perkembangan pasar.

Seluruh Sektor Melemah dan Volatilitas Diperkirakan Tinggi

Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai cukup baik dan valuasi pasar saham domestik relatif menarik dibandingkan sejumlah negara di kawasan regional.

Investor global masih menunggu kepastian terkait stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan moneter global, efektivitas kebijakan fiskal pemerintah, serta konsistensi pelaksanaan program-program ekonomi pemerintah.

Elandry menyatakan, "Kondisi tersebut membuat aliran dana asing belum masuk secara agresif dan cenderung selektif pada saham-saham berfundamental kuat dan likuiditas tinggi."

Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan bergerak konsolidatif dengan volatilitas yang masih tinggi.

Selama belum ada katalis positif yang kuat dari faktor global maupun domestik, pasar diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan hati-hati.

Pelaku pasar juga akan memantau realisasi kebijakan fiskal pemerintah dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi pada semester II 2026.

Elandry menyatakan, "Namun, apabila tekanan eksternal mulai mereda, rupiah kembali stabil, dan terdapat kejelasan arah kebijakan ekonomi pemerintah yang mampu meningkatkan kepercayaan pasar, peluang terjadinya technical rebound dan perbaikan sentimen pasar tetap terbuka."

Pada awal perdagangan, IHSG sempat dibuka menguat sebelum masuk ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama.

Pada sesi kedua, IHSG tetap berada di zona merah hingga perdagangan berakhir.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor mengalami pelemahan.

Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 6,26 persen.

Sektor energi turun 5,83 persen.

Sektor infrastruktur melemah 4,47 persen.

Saham dengan kenaikan harga terbesar tercatat pada PTPW, BHAT, LINK, SCMA, dan BINA.

Saham dengan penurunan harga terbesar tercatat pada CTTH, ARKO, BABY, BIPI, dan ENRG.

Frekuensi perdagangan saham mencapai 2.009.000 kali transaksi.

Jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 24,80 miliar lembar.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp15,13 triliun.

Sebanyak 103 saham menguat.

Sebanyak 646 saham melemah.

Sebanyak 210 saham tidak mengalami perubahan harga.

Di kawasan Asia, Indeks Nikkei turun 0,88 persen ke 69.174,97.

Indeks Shanghai naik 0,11 persen ke 4.160,81.

Indeks Kuala Lumpur naik 0,13 persen ke 1.682,13.

Indeks Strait Times naik 0,20 persen ke 5.215,99.

Penulis :
Leon Weldrick