HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.907 per Dolar AS di Tengah Ketidakpastian Global dan Penantian Data Ekonomi

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.907 per Dolar AS di Tengah Ketidakpastian Global dan Penantian Data Ekonomi
Foto: Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis 23/4/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah 56 poin atau 0,31 persen pada perdagangan Selasa sore sehingga berada di level Rp17.907 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.851 per dolar AS.

Ketidakpastian Global Tekan Pergerakan Rupiah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian pembicaraan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat.

"Ketidakpastian mengenai apakah kedua pihak akan bertemu menyoroti kerapuhan kesepakatan 17 Juni untuk menghentikan pertempuran yang telah mengganggu aliran minyak global melalui Selat Hormuz," ungkap Ibrahim.

Pasar juga mencermati potensi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Qatar setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan rudal pada akhir pekan sehingga gencatan senjata tidak berlanjut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan tidak akan ada pertemuan negosiasi dengan pihak Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan.

Sentimen lain yang memengaruhi pasar berasal dari meningkatnya keyakinan bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali pada tahun ini.

Keyakinan tersebut muncul setelah bank sentral Amerika Serikat menunjukkan sikap hawkish dalam pertemuan bulan Juni dan sejumlah pembuat kebijakan di Federal Reserve juga dinilai mendorong kenaikan suku bunga.

Pelaku pasar kini menunggu laporan pasar tenaga kerja Amerika Serikat bulan Juni dengan data Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pada Kamis, 2 Juli.

"Para analis memperkirakan ekonomi AS akan menambah 114 ribu lapangan kerja, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen, data yang dapat mempengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan The Fed," ujar Ibrahim.

Pasar Tunggu Data Perdagangan Indonesia

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menunggu rilis data neraca perdagangan Indonesia bulan Mei.

Surplus perdagangan yang menyusut dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan (current account deficit atau CAD) pada tahun ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif hingga April sebesar 5,64 miliar dolar AS.

Nilai tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari–April 2025 yang masih berada di atas 10 miliar dolar AS.

"Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing," kata Ibrahim.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke level Rp17.899 per dolar AS pada hari ini dari posisi sebelumnya di Rp17.856 per dolar AS.

Penulis :
Leon Weldrick