
Pantau - PT Pertamina (Persero) menyatakan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat dalam menetapkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di tengah gejolak geopolitik dan pergerakan harga minyak dunia.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, "Komponen dari kemampuan atau daya beli masyarakat tentu tetap menjadi salah satu pertimbangan kami dalam menetapkan harga."
Pernyataan tersebut disampaikan saat menanggapi harga Pertamax (RON 92) yang masih bertahan di level Rp16.250 per liter dan Pertamax Green (RON 95) sebesar Rp17.000 per liter.
Menurut Baron, Pertamina mengikuti pola perhitungan harga BBM sesuai Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 yang mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 11 Tahun 2022 tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM.
Baron mengatakan, "Apa yang terjadi kemarin 1 Juli adalah berdasarkan aturan, ketentuan dan harga minyak dunia tentunya."
Pertamina Pantau Penyaluran BBM
Terkait perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite akibat pelebaran disparitas harga, Pertamina menyatakan terus memantau penyaluran BBM bersubsidi maupun nonsubsidi.
Baron mengatakan, "Kami terus pantau, sehingga dalam penyalurannya sendiri kami melihat bagaimana kami menyalurkan BBM nonsubsidi dan BBM subsidi tersebut."
Harga BBM penugasan dan BBM subsidi tidak mengalami perubahan, dengan Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.
Harga Sejumlah BBM Nonsubsidi Turun
Mulai 1 Juli 2026, Pertamina menurunkan harga sejumlah BBM nonsubsidi jenis solar dan bensin beroktan tinggi.
Untuk wilayah Jabodetabek, harga Dexlite (CN 51) turun dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter.
Harga Pertamina Dex (CN 53) turun dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter.
Harga Pertamax Turbo (RON 98) turun dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter.
Sementara itu, harga Pertamax tetap Rp16.250 per liter dan Pertamax Green tetap Rp17.000 per liter.
Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green terakhir terjadi pada 10 Juni 2026 setelah sebelumnya pemerintah menahan penyesuaian harga BBM di tengah lonjakan harga minyak akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
- Penulis :
- Leon Weldrick





