
Pantau - Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan peningkatan kompetensi menjadi kunci agar tenaga kerja Indonesia mampu menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin cepat akibat digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), perubahan demografi, dan transisi menuju ekonomi hijau (green economy).
Lima Prioritas Hadapi Perubahan Dunia Kerja
Afriansyah menjelaskan transformasi dunia kerja telah mengubah kebutuhan kompetensi sekaligus melahirkan berbagai jenis pekerjaan baru.
Ia menilai kondisi tersebut menuntut kebijakan yang mampu menjembatani kesenjangan antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Afriansyah mengungkapkan, "Dalam konteks inilah, kebijakan pasar kerja aktif memegang peranan yang sangat vital. Kebijakan ini harus mampu menjadi jembatan untuk menyelaraskan ketidaksesuaian antara suplai tenaga kerja dengan kebutuhan industri yang bergerak dinamis."
Kemnaker menetapkan lima prioritas yang perlu dipercepat, yaitu memperkuat program reskilling dan upskilling berbasis kebutuhan industri, mewujudkan pasar kerja yang inklusif, memperkuat dialog sosial dan kolaborasi multipihak, memodernisasi layanan ketenagakerjaan melalui bimbingan karier dan digitalisasi informasi pasar kerja, serta memperkuat program yang mendukung pencari kerja dan kewirausahaan.
Afriansyah mengungkapkan, "Dengan demikian, tenaga kerja akan lebih siap menghadapi dinamika dunia kerja sekaligus mampu memanfaatkan peluang yang muncul dari transformasi tersebut."
Perkuat Kolaborasi dan Kepemimpinan Transformatif
Kemnaker juga terus memperluas jejaring kerja sama di tingkat bilateral, regional, dan multilateral untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.
Sebagai focal point ASEAN Labour Ministers Meeting (ALMM), Indonesia berperan aktif mengoordinasikan kerja sama ketenagakerjaan kawasan serta mengawal penyusunan berbagai dokumen strategis mengenai masa depan dunia kerja.
Afriansyah mengungkapkan, "Regulasi di atas kertas tidak akan pernah cukup tanpa hadirnya kepemimpinan yang transformatif. Masa depan dunia kerja menuntut para pemimpin yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki empati, ketangkasan, dan visi yang mampu menginspirasi perubahan di dalam organisasinya."
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





