HOME  ⁄  Ekonomi

Akademisi Menilai PSEL Bali Menjadi Langkah Strategis untuk Kendalikan Sampah dan Emisi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Akademisi Menilai PSEL Bali Menjadi Langkah Strategis untuk Kendalikan Sampah dan Emisi
Foto: (Sumber :Gubernur Bali Wayan Koster (tengah) bersama Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara (kanan) dan Bupati Badung Wayan Adi Arnawa saat groundbreaking PSEL Denpasar Raya di kawasan Kelurahan Pedungan, Denpasar Selatan, Rabu (8/7/2026). ANTARA/HO-Humas Pemkot Denpasar)

Pantau - Ketua Harian Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia (Indonesian Environmental Scientist Association/IESA) Lina Tri Mugi Astuti menilai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali merupakan langkah strategis untuk mempercepat penanganan sampah sekaligus mengendalikan emisi gas rumah kaca di Pulau Dewata.

PSEL Dinilai Mampu Kurangi Dampak Lingkungan

Lina mengatakan, “Ketika dilakukan open dumping, masalah utamanya berkaitan dengan perubahan iklim. Gas metana terlepas secara tidak terkendali dan berpotensi besar menyumbang gas rumah kaca. Berbeda ketika sampah dikelola.”

Ia menjelaskan PSEL dapat memanfaatkan berbagai teknologi, seperti biogas hingga pirolisis, namun teknologi insinerasi dinilai menjadi pilihan yang tepat untuk mempercepat pengolahan sampah dalam skala besar sesuai kondisi pengelolaan sampah saat ini.

Lina mengungkapkan, “PSEL sebenarnya dapat menggunakan banyak teknologi, bukan hanya insinerator. Namun, melihat kondisi sampah sekarang, teknologi yang bisa dilakukan untuk percepatan saat ini adalah insinerator.”

Meski demikian, ia menegaskan keberhasilan teknologi tersebut bergantung pada sistem pengendalian emisi yang baik serta pengawasan lingkungan yang dilakukan secara konsisten.

Ia mengatakan, "Yang perlu diperhatikan adalah control emission system atau sistem pengendalian emisinya. Insineratornya harus teruji dan emisi yang ditimbulkan dapat dikendalikan.”

PSEL Harus Berjalan Bersama Pemilahan Sampah

Lina menekankan keberadaan PSEL tidak dapat menggantikan upaya pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber karena keduanya harus menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang saling melengkapi.

Ia mengingatkan kualitas sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan, termasuk kadar kelembabannya, dapat memengaruhi proses produksi energi.

Lina mengatakan, “Insinerasi memang menjadi teknologi yang paling cepat untuk saat ini, tetapi itu tidak menjamin keberlanjutan apabila tidak didukung perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah.”

Menurutnya, pembangunan PSEL juga harus memperhatikan aspek sosial, termasuk keberlangsungan mata pencaharian sektor informal yang selama ini bergantung pada aktivitas pemilahan sampah.

Ia menambahkan, “Kalau PSEL sudah ada dan Bali tidak bersih, itu menjadi tanda tanya, terutama jika sampah masih terlihat di pantai. Pemerintah daerah tidak boleh diam. Pengumpulan sampah tetap harus dilakukan secara masif.”

Lina juga menegaskan tata kelola yang transparan, pengawasan lingkungan yang kuat, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar PSEL dapat beroperasi sesuai standar dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun perekonomian.

Penulis :
Ahmad Yusuf