
Pantau - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara resmi mengalihkan seluruh operasional sarana perkeretaapiannya dari bahan bakar Biodiesel B40 ke BioSolar B50 sejak 5 Juli 2026 sebagai bentuk dukungan terhadap Program Langit Biru, pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta kepatuhan terhadap Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026.
Selama periode awal implementasi pada 5 hingga 10 Juli 2026, KAI Divre I Sumatera Utara mencatat penggunaan BioSolar B50 mencapai 97.580 liter.
Hasil evaluasi menunjukkan transisi dari B40 ke B50 berjalan lancar tanpa mengganggu pelayanan publik.
Implementasi B50 Berjalan Normal
BioSolar B50 diterapkan secara menyeluruh untuk mendukung operasional lokomotif, kereta pembangkit, serta sarana operasional lainnya di wilayah kerja Sumatera Utara.
Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan, "Selama masa awal implementasi B50, operasional kereta api di Divre I Sumatera Utara berjalan normal. KAI terus melakukan pemantauan terhadap performa sarana sebagai bagian dari evaluasi sehingga pelayanan kepada pelanggan maupun pengguna jasa angkutan barang tetap berjalan aman, nyaman, selamat, dan tepat waktu."
Peralihan ke BioSolar B50 dilakukan sebagai tindak lanjut atas regulasi pemerintah yang bertujuan mempercepat kemandirian energi nasional serta menghentikan impor solar.
BioSolar B50 merupakan campuran 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar.
Emisi Lebih Rendah dan Dukung Kualitas Udara
Anwar menjelaskan penggunaan BioSolar B50 secara ilmiah memberikan dampak positif terhadap kualitas udara di Sumatera Utara.
Emisi yang dihasilkan BioSolar B50 lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil murni maupun varian biodiesel sebelumnya.
Secara teknis, penggunaan BioSolar B50 mampu menurunkan tingkat kepekatan asap sisa pembakaran hingga 10,5 persen.
Pada skala nasional, optimalisasi penggunaan BioSolar B50 diproyeksikan mampu mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) sebesar 4,8 juta ton lebih banyak dibandingkan penggunaan B40 yang sebelumnya menghasilkan emisi CO2 sebesar 39,66 juta ton.
Sebelum beralih ke BioSolar B50, KAI Divre I Sumatera Utara telah menggunakan Biodiesel B40 sebanyak 3.079.580 liter untuk menggerakkan seluruh lini operasional selama periode 1 Januari hingga 4 Juli 2026.
Anwar mengatakan, "Dengan penggunaan solar jenis B50 ini, KAI Divre I Sumatera Utara tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi secara aktif berkontribusi mewujudkan langit Sumatera Utara yang lebih bersih. KAI berkomitmen penuh menjaga keandalan sarana agar misi lingkungan ini berjalan selaras dengan aspek keselamatan perjalanan kereta api."
Anwar menegaskan KAI akan terus bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan penggunaan BioSolar B50 mendukung keberlanjutan energi hijau sekaligus menjaga keandalan sarana perkeretaapian dalam melayani pelanggan.
- Penulis :
- Shila Glorya





