
Pantau - Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat realisasi investasi sektor ekonomi kreatif pada 2025 tumbuh lebih dari 30 persen sehingga memperkuat prospek sektor tersebut sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Investasi Didominasi Subsektor Aplikasi
Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif, Dessy Ruhati, mengatakan prospek investasi ekonomi kreatif masih didominasi oleh subsektor aplikasi dengan nilai investasi mencapai Rp54,18 triliun.
Setelah subsektor aplikasi, investasi terbesar berasal dari subsektor kriya, disusul subsektor fashion dan kuliner yang turut menjadi penyumbang utama dalam komposisi investasi ekonomi kreatif.
Menurut Dessy, komposisi investasi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia berkembang sangat pesat.
"Kinerja tersebut tercermin dari perkembangan investasi yang terus menunjukkan tren positif. Ke depan, tantangan utama adalah memperluas investasi tersebut ke berbagai daerah melalui penguatan ekosistem, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, perlindungan kekayaan intelektual, serta perluasan akses pembiayaan," ungkapnya.
Dessy menyebut kinerja investasi ekonomi kreatif juga sejalan dengan meningkatnya penerimaan produk kreatif Indonesia di pasar internasional.
Nilai ekspor ekonomi kreatif berbasis barang untuk subsektor fashion tercatat sebesar 16,3 juta dolar AS, sementara subsektor kriya mencapai 12 juta dolar AS.
Subsektor kuliner juga menunjukkan perkembangan ekspor yang dinilai sangat menggembirakan.
Kementerian Ekonomi Kreatif terus mengupayakan optimalisasi pencatatan nilai ekspor jasa kreatif yang meliputi konten digital, desain, animasi, musik, film, aplikasi, serta berbagai layanan kreatif lainnya yang belum seluruhnya tercatat secara optimal.
Hexahelix Didorong untuk Perkuat Ekosistem
Sektor ekonomi kreatif juga memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja produktif, terutama dari kalangan generasi muda, sehingga dinilai strategis dalam menjawab tantangan penciptaan lapangan kerja nasional.
"Pada akhirnya, lapangan kerja tersebut akan bermuara pada peningkatan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi nasional," kata Dessy.
Untuk meningkatkan prospek ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi, Kementerian Ekonomi Kreatif menerapkan pendekatan Hexahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, lembaga keuangan, dan media.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas pelaku usaha, memperluas perlindungan kekayaan intelektual, mempermudah proses valuasi, memperluas akses pasar, serta memperkuat evaluasi terhadap dampak ekonomi yang dihasilkan.
"Indonesia tidak kekurangan ide, Indonesia tidak kekurangan talenta, Indonesia juga tidak kekurangan kreatifitas, yang masih perlu kita bangun bersama adalah ekosistem yang mampu mengubah kreativitas tersebut menjadi kekuatan ekonomi nasional," ujar Dessy.
Kementerian Ekonomi Kreatif menargetkan investasi sektor ekonomi kreatif mencapai Rp133,74 triliun hingga Rp157,65 triliun pada 2027 untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sesuai mandat strategis Presiden dalam RPJMN 2025–2029 dan arah RKP 2027 yang berfokus pada akselerasi pertumbuhan berkualitas melalui produktivitas, investasi, dan industri.
Melalui RPJMN tersebut, Kementerian juga mendapat amanat untuk mendukung pertumbuhan PDB ekonomi kreatif sebesar 5,8 persen pada 2027, pertumbuhan ekspor ekonomi kreatif sebesar 5,5 persen, nilai ekspor mencapai 29,39 miliar dolar AS, penyerapan tenaga kerja sebanyak 26,58 juta orang, serta pertumbuhan investasi pada kisaran 6,2 persen hingga 7,6 persen.
- Penulis :
- Arian Mesa





