
Pantau - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan ekosistem bullion atau bank emas nasional telah menghimpun sekitar 153 ton emas sejak diluncurkan pada 20 Februari 2025 sebagai upaya memperdalam pasar keuangan dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Bank Emas Perkuat Pasar Keuangan Nasional
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengatakan akumulasi emas tersebut berasal dari Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia.
Ia mengungkapkan, “Sejak 20 Februari 2025 kami sudah mengakumulasi total emas, baik di Pegadaian maupun Bank Syariah Indonesia, sekitar 153 ton. Ini satu hal yang juga terus akan kami kembangkan.”
Menurut Ferry, pemerintah terus melakukan reformasi sektor keuangan melalui penguatan tata kelola pasar keuangan, peningkatan transparansi, serta pendalaman pasar keuangan domestik guna menjaga kepercayaan investor.
Pemerintah bersama Bank Indonesia juga terus memperluas implementasi transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) dengan negara-negara mitra dagang untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing.
Ia menjelaskan implementasi LCT yang dimulai sejak 2018 kini telah berjalan bersama enam mitra utama, yaitu Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Pemerintah Perkuat Pembiayaan dan Tata Kelola Ekonomi
Ferry mengatakan pemerintah menyiapkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp340 triliun untuk menopang pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung sektor-sektor produktif.
Pemerintah juga terus menyempurnakan kebijakan devisa hasil ekspor guna meningkatkan transparansi, mencegah praktik under invoicing dan transfer pricing, serta mengoptimalkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Ia menambahkan sejumlah lembaga internasional masih mempertahankan prospek positif terhadap perekonomian Indonesia.
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2026, sedangkan Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan sebesar 5,2 persen.
- Penulis :
- Aditya Yohan





