HOME  ⁄  Nasional

Takeda Investasikan Rp539 Miliar untuk Bangun Ekosistem Biofarmasi dan Bank Plasma di Indonesia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Takeda Investasikan Rp539 Miliar untuk Bangun Ekosistem Biofarmasi dan Bank Plasma di Indonesia
Foto: (Sumber :Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani (ANTARA/HO-BKPM).)

Pantau - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyampaikan perusahaan biofarmasi asal Jepang, Takeda, akan menginvestasikan 30 juta dolar AS atau sekitar Rp539 miliar untuk mengembangkan ekosistem produk obat derivat plasma (PODP) di Indonesia.

Investasi Dorong Transfer Teknologi dan Industri Kesehatan

Investasi tahap awal selama dua tahun tersebut akan difokuskan pada pembangunan jaringan bank plasma sebagai fondasi pengembangan industri plasma nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan investasi Takeda menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap sektor kesehatan berteknologi tinggi di Indonesia.

Ia mengungkapkan, "Investasi ini merupakan investasi strategis yang tidak hanya menghadirkan tambahan modal, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penciptaan lapangan kerja berketerampilan tinggi. Pemerintah terus mendorong investasi yang memberikan nilai tambah dan memperkuat kapasitas industri nasional sehingga Indonesia dapat menjadi pusat manufaktur dan inovasi kesehatan di kawasan."

Menurut Rosan, kemitraan tersebut juga sejalan dengan agenda transformasi ekonomi melalui hilirisasi di sektor kesehatan untuk memperkuat daya saing industri nasional dan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Jepang Tetap Jadi Mitra Strategis Investasi

BKPM mencatat Jepang menjadi salah satu mitra strategis Indonesia di bidang investasi dengan nilai penanaman modal mencapai 1 miliar dolar AS pada triwulan I 2026.

Sementara itu, total realisasi investasi Jepang selama periode 2021 hingga triwulan I 2026 mencapai 18,1 miliar dolar AS dengan pertumbuhan rata-rata 13,2 persen dan menyerap 299.460 tenaga kerja.

Rosan berharap kerja sama tersebut dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap produk obat derivat plasma sekaligus membangun ekosistem industri biofarmasi yang inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 sebagai bagian dari pengembangan jaringan plasma nasional yang memenuhi standar global.

Penulis :
Aditya Yohan