HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp18.070 per Dolar AS Dipicu Melandainya Inflasi Amerika Serikat

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Menguat ke Rp18.070 per Dolar AS Dipicu Melandainya Inflasi Amerika Serikat
Foto: (Sumber :Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.)

Pantau - Nilai tukar rupiah menguat 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp18.070 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.091 per dolar AS, didorong oleh melandainya inflasi Amerika Serikat (AS) dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Inflasi AS Dorong Penguatan Rupiah

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi sentimen global yang berasal dari melandainya inflasi AS.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat pada kisaran di Rp18 ribu-Rp18.105 per dolar AS, dipengaruhi faktor global melandainya inflasi AS dan menurunnya yield obligasi pemerintah AS," ungkap Rully.

Mengutip Anadolu, inflasi konsumen tahunan AS melambat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026 dari 4,2 persen pada Mei 2026.

Indeks Harga Konsumen AS tercatat turun 0,4 persen secara bulanan pada Juni setelah sebelumnya naik 0,5 persen pada Mei.

Inflasi inti AS juga tidak berubah secara bulanan dan melambat menjadi 2,6 persen secara tahunan dari 2,9 persen pada Mei.

"Landainya inflasi AS didorong oleh penurunan harga minyak bulan Juni saat dijalankannya gencatan senjata AS dan Iran," ujar Rully.

Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia

Selain sentimen global, pelaku pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.

Rully menilai ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve memudar sehingga turut menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

"Dalam rapat RDG nanti diperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga acuan di 5,75 persen," kata Rully.

Penulis :
Ahmad Yusuf