
Pantau - Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi melemah seiring pelaku pasar mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 21-22 Juli 2026.
Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga BI
“Pelaku pasar masih hati2 mengantisipasi hasil RDG BI yang kemungkinan akan menaikkan bunga acuan menjadi 6 persen,” ujar Rully.
Meski demikian, rupiah pada perdagangan Selasa pagi tercatat menguat 11 poin atau 0,06 persen menjadi Rp17.937 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.948 per dolar AS.
Rully menilai kenaikan suku bunga acuan masih diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar dan menstabilkan nilai tukar rupiah.
“Kenaikan suku bunga oleh BI masih diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar dan menstabilkan rupiah,” katanya.
Konflik Geopolitik Tekan Pergerakan Rupiah
Rully menjelaskan pelemahan rupiah juga dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang mendorong kenaikan harga minyak serta penguatan indeks dolar AS.
“Harga minyak WTI (West Texas Intermediate) bertahan di 82,6 (dolar AS per barel) sementara Brent 89,2 (dolar AS per barel) dan index dollar naik menjadi 100,94,” ungkapnya.
Sebelumnya, Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin pada Mei 2026 menjadi 5,25 persen setelah bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025.
Bank Indonesia kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin melalui RDG Mingguan pada 9 Juni 2026 dan kembali menaikkannya menjadi 5,75 persen dalam RDG Bulanan pada 18 Juni 2026.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





