
Pantau - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) menilai prospek pasar saham Indonesia pada semester II 2026 ditopang valuasi saham yang semakin menarik, pulihnya minat investor asing, serta tetap terjaganya status Indonesia sebagai Emerging Market dalam indeks MSCI.
Fundamental dan Kebijakan Global Jadi Penentu
Head of Research and Chief Economist MASI Rully Arya Wisnubroto mengatakan mulai pulihnya minat investor asing terhadap saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sinyal positif bagi pasar modal domestik.
Ia mengungkapkan, "Mulai pulihnya minat investor asing terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps bank) menjadi salah satu sinyal positif bagi pasar saham Indonesia."
Menurut Rully, perhatian investor kini tidak hanya tertuju pada momentum technical rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi, arah kebijakan moneter global, dan kemampuan emiten menjaga pertumbuhan kinerja.
Ia mengungkapkan, "Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung."
MASI memproyeksikan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 basis poin pada September dan Desember 2026 sehingga kebijakan higher for longer diperkirakan masih berlanjut.
Rully mengungkapkan, "Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar AS semakin ketat, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas."
Status MSCI Jadi Sentimen Positif
Research Analyst MASI Wilbert Arifin mengatakan keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market menjadi katalis positif yang mengurangi ketidakpastian pasar.
Ia mengungkapkan, "Status Indonesia sebagai Emerging Market tetap terjaga, meski bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,4 persen pada Juni 2026 dari 1,2 persen pada akhir 2025, seiring berkurangnya kepemilikan investor asing dan arus keluar dana dari pasar saham Indonesia."
Wilbert menjelaskan pasar sebelumnya mengantisipasi risiko reklasifikasi Indonesia menjadi Frontier Market yang berpotensi memicu arus keluar dana bersih hingga Rp80 triliun.
Ia mengungkapkan, "Net outflow asing masih didominasi dana yang mengacu pada indeks (index linked funds), sementara investor strategis tetap mempertahankan eksposurnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Dengan valuasi pasar yang berada pada level terendah dalam satu dekade dan potensi unfreeze inklusi indeks MSCI ke depannya, peluang kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik tetap terbuka."
Wilbert menambahkan, "Kombinasi faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah pasar saham Indonesia pada semester kedua 2026."
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Tria Dianti





