
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 5,54 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.334,48 pada Rabu sore seiring aksi profit taking oleh pelaku pasar setelah penguatan yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut turun 4,09 poin atau 0,64 persen ke posisi 632,55.
Pergerakan IHSG Dipengaruhi Aksi Profit Taking
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan, "Pelemahan tersebut terutama dipengaruhi oleh aksi profit taking setelah penguatan yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir."
Pada awal perdagangan, IHSG sempat dibuka menguat.
Setelah itu, IHSG bergerak ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama.
Pada sesi kedua, IHSG tetap berada di zona merah hingga perdagangan berakhir.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen.
Keputusan tersebut bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global.
BI juga berupaya menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
Ratna Lim mengatakan, "Keputusan itu mencerminkan keyakinan BI terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah dan inflasi yang tetap terkendali, sekaligus menjaga ruang pertumbuhan ekonomi domestik."
Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN pada semester I-2026 mencapai Rp196,5 triliun.
Defisit tersebut setara 0,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Nilai defisit masih berada di bawah batas maksimal 3 persen dari PDB sesuai ketentuan Undang-Undang.
Bursa Global Menguat, Perdagangan Domestik Berjalan Variatif
Dari mancanegara, bursa saham global menguat didorong rebound saham-saham semikonduktor.
Penguatan tersebut terjadi setelah sektor semikonduktor sebelumnya memasuki fase bear market akibat aksi "ambil untung" pada tema kecerdasan buatan (AI).
Meskipun prospek jangka panjang AI masih dinilai kuat, pelaku pasar tetap mencermati tingginya belanja modal (capex) perusahaan-perusahaan teknologi besar serta potensi imbal hasil dari investasi yang dilakukan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor mencatat penguatan.
Sektor teknologi menjadi sektor dengan kenaikan terbesar setelah naik 1,42 persen.
Sektor industri menguat 1,19 persen.
Sektor barang konsumen primer naik 0,59 persen.
Sebaliknya, lima sektor mengalami pelemahan.
Sektor transportasi dan logistik mencatat penurunan terdalam sebesar 2,07 persen.
Sektor kesehatan turun 1,07 persen.
Sektor infrastruktur melemah 0,35 persen.
Saham dengan penguatan terbesar pada perdagangan kali ini adalah ZATA, SWID, MDIA, ALDO, dan MLPT.
Saham dengan pelemahan terbesar adalah KDTN, MMIX, TRON, SULI, dan KLIN.
Frekuensi perdagangan saham mencapai 2.700.000 kali transaksi.
Volume perdagangan tercatat sebanyak 44,63 miliar lembar saham.
Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp18,52 triliun.
Sebanyak 281 saham menguat.
Sebanyak 367 saham melemah.
Sebanyak 317 saham tidak mengalami perubahan harga.
Bursa saham regional Asia bergerak bervariasi pada perdagangan hari yang sama.
Indeks Nikkei melemah 0,37 persen ke 65.984,00.
Indeks Shanghai menguat 0,07 persen ke 3.867,03.
Indeks Hang Seng melemah 0,95 persen ke 24.892,66.
Indeks Kospi melemah 0,74 persen ke 6.797,70.
Indeks Strait Times menguat 1,07 persen ke 5.585,83.
- Penulis :
- Shila Glorya





